Learning to be part 2

PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT :

MENUJU DEMOKRASI DAN PERSAMAAN HAK  PENDIDIKAN

(Sebuah Telaah Tentang Proses Pembelajaran yang Efektif dan Egaliter)

 

 

 

Daftar Isi

 

 

Cover

Daftar Isi

Bab I. Pendahuluan————————————————————————————– 1

Bab II. Pendidikan dan Masyarakat : Menuju Demokrasi dan Persamaan Hak Pendidikan (Sebuah Telaah Tentang Pembelajaran yang Efektif dan Egaliter) ————————————— 2

A.Pendidikan dan Masyarakat  ————————————————————————- 4

B.Tradisi dan Batasan-Batasan————————————————————————– 6

C.Metode dan Isi——————————————————————————————- 7

D.Jalan Setapak Menuju Demokrasi——————————————————————– 9

E.Konsep Lama dan Kebutuhan Konsep Baru——————————————————— 12

Bab III. Kesimpulan ————————————————————————————- 15

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………………….. 16

Bab I. Pendahuluan

Pembangunan pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Pembangunan pendidikan sangat penting karena perannya yang signifikan dalam mencapai kemajuan di berbagai bidang kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Karena itu, Pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak setiap warga negara dalam memperoleh layanan pendidikan guna meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945, yang mewajibkan pemerintah bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan kesejahteraan umum. Pendidikan menjadi landasan kuat yang diperlukan untuk meraih kemajuan bangsa di masa depan, bahkan lebih penting lagi sebagai bekal

dalam menghadapi era global yang sarat dengan persaingan antarbangsa yang

berlangsung sangat ketat. Dengan demikian, pendidikan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi karena ia merupakan faktor determinan bagi suatu bangsa untuk bisa memenangi kompetisi global (http://agribisnis.deptan.go.id /web/diperta-tb/produkhukum/bab_26_narasi.pdf). Pendeknya, pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa serta sebagai sarana dalam membangun watak bangsa (Nation Character Building) (Mulyasa, 2007 : 4).

Berbagai studi menunjukkan, pendidikan bukan saja penting untuk membangun masyarakat terpelajar yang menjelma dalam wujud massa kritis (critical mass), tetapi juga dapat menjadi landasan yang kuat untuk memacu pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan, menguasai teknologi, dan mempunyai keahlian dan keterampilan. Tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan yang memadai akan memberi kontribusi pada peningkatan produktivitas nasional.

Kepopuler Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau School Based Management semakin menggambarkan bahwa proses pendidikan tidak bisa dilepaskan dari campur tangan dan pengaruh lingkungan khususnya masyarakat. Peranan masyarakat dalam pendidikan menempati posisi yang cukup signifikan dan tidak bisa di pandang sebelah mata. Dalam konteks pendidikan, hubungan antara pendidikan dan masyarakat tercermin dengan adanya Komite Sekolah yang “dianggap” sebagai perwakilan pihak masyarakat yang masuk dalam struktur sekolah.

Dilihat dari perjalanan perubahan kerikulum dari kurikulum 1947, kemudian disempurnakan menjadi kurikulum 1952 disempurnakan lagi pada tahun 1964 yang kemudian diganti dengan kurikulum 1975 dan kemudian diganti dengan kurikulum 1984 dengan metode CBSA. Seiring perjalanannya kurikulum 1984 diganti dengan kurikulum 1994 dan kemudian disempurnakan dengan kurikulum KBK dan kuirkulum ini tidak bertahan lama yang kemudian diganti dengan KTSP (http://www.e-smartschool.com). Namun perubahan kurikulum ini juga tidak mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia secara komprehensif. Dunia pendidikan di Indonesia tidak berajak segera membaik, bahkan semakin memprihatinkan. Sekolah roboh, gedung yang rusak, minimnya sarana pendidikan, minimnya gaji guru, lulusan yang tidak berkualitas, kurikulum yang tidak jelas orientasinya, diskriminasi dalam pendidikan, RUU BHP (Badan Hukum Pendidikan) dan sebagainya masih menjadi berita yang hangat di berbagai massa. Pemerintah dengan segala pertimbangannya meluncurkan berbagai kebijakan seperti perbaikan kurikulum dengan istilah KTSP, MBS, Otonomi Sekolah dan sebagainya. Namun, sering kali kebijakan tersebut justru semakin membuat runyam dan menjauhkan diri dari maksud baiknya (Indarto (editor), 2007:vii).

Salah satu faktor pendidikan yang terpeting adalah berjalannya proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, proses ini terkandung dalam UU Standar Pendidikan Nasional pasal 19 ayat 1 yang berbunyi : proses pembelajaran paad satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memeberikan ruang yang cukup dan prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuia dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Menurut Saylor (1981:227) dalam Mulyasa (2008 : 246) menagrakan bahwa : “Intruction is thus the implementation of curriculum plan, usually, but not necessarily, involving teaching in the sense of student, teacher interaction in an educational setting”.

Terkait dengan tugas book report tentang Learning To be beberapa pembahasan yang akan diuraikan adalah : pertama, tentang pendidikan dan masyarakat yang menjelaskan tentang hubungan pendidikan dengan masyarakat atau sebaliknya; kedua, pembahasan bagaiamana tradisi dan batasan, ketiga, metode dan isi yang terkait dengan proses pembelajaran, keempat, jalan menuju demokrasi yaitu kesamaan hak dalam pendidikan, dan kelima, tentang kebutuhan konsep baru. Secara garis besarnya pembahasan dalam makalah ini tidak akan lepas dari ide hubungan antara pendidikan dan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab II. Pendidikan dan Masyarakat :

Menuju Demokrasi dan Persamaan Hak Pendidikan

 

 

  1. A. Pendidikan dan Masyarakat

Menurut Coombs (1982) dalam Sa’ud dan Makmun (2008 : 8) menjelaskan bahwa perencanaan pendidikan adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan denagn tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien serta sesuia dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat. Berdasarakan pengertian ini bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari masyarakat baik pendidikan dalam posisi dipengaruhi atau mempengaruhi. Dalam buku Learning To Be yang terkait dengan konsep perencanaan, bahwa tugas pokok perencana dalam menghadapi tantangan dan bahan evaluasi dalam pengembangan pendidikan hanya tertuju pada aspek yang bersifat kuantitaif sedangkan aspek kualitatif jarang dijadikan bahan pertimbangan.

Pendidikan merupakan suatu gambaran dunia seluasnya. Pendidikan adalah kebutuhan masyarakat, selama pendidikan sejalan dengan orientasi masyarakat, dan khususnya membantu masyarakat untuk mengembangkan kemampuan yang produktif dengan jalan menjamin pengembangan sumber daya manusia. Melihat hal ini pada dasarnya perencanaan dan pengembangan pendidikan harus dilakukan secara komprehensif, bukan hanya pada satu sisi saja. Pembaharuan kurikulum, mengeluarkan undang-undang profresionalisme guru dengan jalan sertifikasi tetapi tidak berbanding lurus untuk meningkatkan kesejahteraan para guru yang merupakan garda terdepan dalam proses pendidikan. Sebuah perencanaan harus menyutuh dasar akarnya, perbaikan dari mulai hulu hingga hilir bukan perencanaan dan perbaikan yang sifatnya tambal sulam.

 

Deskripsi tersebut tidak bisa dilepaskan karena mau tidak mau telah terjalin hubungan antara pendidikan dan masyarakat. Proses dialektika ini seharusnya bisa untuk saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan. Yang jelas, bagaimanapun, pada tingkat realitas sosial, bahwa sampai saat ini, kita ketahui pendidikan berada dalam tatanan masyarakat, bertahan sepajang masa berdasarkan dasar-dasar  nilai yang ada dan keseimbangan kekuatan serta pengaruh yang dijaga dan dipertahankan, dengan segala interaksi diantara keduanya secara posistif dan sifat-sifat negatif dalam proses mencapai  tujuan masa depan dan arah sejarah bangsa.

Kenyataannya, hubungan antara pendidikan dan masyarakat masih dihiasi dengan pertentangan  dalam melihat di antara keduanya . Mengutip pendapat Brodly dalam buku Learning to Be ketidak harmonisan hubungan diantara keduanya didasari atas pandangan :

  1. Idealisme, yang mana menganggap  pendidikan  tersebut ada di dalam diri dan berjalan dengan sendirinya.
  2. Voluntarism (suka rela), pendidikan akan bisa berjalan dengan sangsi dan harus mampu merubah dunia, dan mengikuti beberapa perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat.
  3. Deterministic mekanism (paham penentuan mekanis), melihat bahwa bentuk dan masa depan pendidikan dikendalikan dan mengikuti realitas lingkungan.
  4. Akhirnya, pandangan sekolah yang berasal dari ketiga pendapat di atas, dan dengan menerima sebagai teori pendidikan tersebut harus dikonsep kembali dengan kritik yang jelas dan tajam dan ketika masyarakat dipisahkan dari pendidikan akan tetap memperburuk  dan mengekalkan konsep pendidikan tersebut.  Pandangan tersebut  merupakan gambaran bisa atau tidaknya pendidikan diperbaiki terpisah dari perubahan menyeluruh masyarakat. Bagaimanapun, terlihat jelas perbedaan terhadap permasalahan ini, usaha untuk mempertahankan dunia/lingkungan yang berhubungan dengan pendidikan dapat menjadi baik dalam setiap tahap, dengan perubahan mendalam terhadap pendidikan itu sendiri, dalam konteks untuk perubahan sosial yang akan datang.

Pendidikan harus mampu melaksanakan usaha yang terfokus kepada pelatihan menjadi “manusia seutuhnya” dan siapa saja yang secara serius melihat diri mereka sendiri dan kebebasan manusia secara kolektif, dan ini merupakan kontribusi yang besar untuk perubahan dan membentuk masyarakat yang humanis.

 

  1. B. Tradisi dan Batasan-Batasan

Hubungan dan interaksi diantara masyarakat dan pendidikan yang begitu kompleks itu, tidak dapat dijelaskan secara sederhana dan cukup memberikan penjelasan. Pendapat ini sangat jelas untuk mengaitkan tugas pendidikan kepada masyarakat dan masyarakat kepada pendidikan, yang saling mendukung dan saling mempengaruhi. Upaya agar hubungan tersebut berjalan seiring, maka pengembangan dalam pendidikan merupakan tugas seorang pemimpin. Pengembangan yang bersifat objectif tidak dapat dirangcang dengan terburu-buru dan dengan retorika sederhana yang telah digunakan di masa lalu. Pengembangan harus dikonsep dan disusun secara matang sehingga bermafaat dalam menghadapi tantangan perkambangan zaman.

Tingkatan, apakah yang terkait dengan pekerjaan atau hanya bagian (tergantung terhadap pertanyaan masyarakat), terlihat di dalam struktur pendidikan. Pertimbangan “dasar”, “tengah”, “atas”, “profesional”, “teknik”, atau keilmuan kesemuanya merupakan isi/muatan yang membuat perbedaan yang jelas. Pembelajaran merupakan sebuah profesi kepemimpinan. Masyarakat selalu beranggapan status sebagai seorang guru dipilih berdasarkan umur dan prestasi mental belajarnya. Pendeknya, disana terdapat tingkat kekakuan yang berlebihan dalam hubungan antara guru dan siswa. Adanya batasan antara murid dan guru semakin mendorong tidak munculnya respon positif diantara keduanya. Padahal dalam konteks ke-Indonesiaan proses pembelajaran harus mengedepankan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan yang dikenal dengan istilah PAKEM (Mulyasa, 2006 : 189). Seiring dengan munculnya undang-undang sertifikasi guru, maka pemilihan guru tidak hanya didasarkan pada aspek umur, kemapuan akademik saja tetapi juga kedewasaan psikologis.

Pendidikan keseluruhannya dimulain dari keluarga dalam konteks sosial anak dan remaja. Sekolah hanya melanjutkan pendidikan yang telah didapat dalam keluarga. Munculnya tingkatan dalam struktur pendidikan memunculkan batasan-batasan. Batasan-batasan seperti bahwa mengajar musik klasik kurang memiliki prestise dibanding menjadi pengajar di perguruan tinggi atau mengajar matematika atau ilmu pasti. Dalam konteks ke-Indonesiaan guru pendidikan agama Islam dianggap kurang mempunyai peranan dan prestise dibanding guru yang mengajar bidang studi yang masuk dalam ujian nasional. Batasan-batasan elitis dalam masyarakat masih kental terlihat dalam dunia pendidikan.  Sistem pendidikan bukan untuk dijadikan alasan berdasarkan latar belakang sosial masyarakat, tetapi cukup untuk menjadi “terbaik” yang menegaskan eksistensi elitis tersebut.

 

  1. C. Metode dan Isi

Pendidikan yang terkait dengan pembelajaran dalam konteks metodenya muncul tanpa motivasi. Pembelajaran menjadi sesutu hal yang membosankan. Pada dasarnya sangat banyak teori belajaran yang ditawarkan oleh para ahli mulai dari Thorndike hingga Skinner dari behavioristik hingga kontruktivis. Namun pemahaman terhadap teori pembelajaran tersebut tidak didukung oleh penguasaan metode pembelajaran yang komprehensif. Semangat interdisiplineri studi dan pembelajaran berbasis fakta dan kondisi sosial kurang diperhatikan. Proses pendidikan secara intens – dan tidak menafikan kompetensi lainnya – hanya tertuju pada pengembangan kemampuan kognitif saja dan itupun pada mata pelajaran tertentu khususnya mata pelajaran ujian nasional. Fakta-fakta sosial dan beragam masalah yang saat ini sedang dihadapi oleh masyarakat saat ini seperti : militer, sosial dan konflik radikal, musibah kelaparan yang melanda dunia, polusi, pergaulan dan status antara pemuda-pemudi, dan rasisme terhadap kelompok minoritas, beranggapan bahwa hal tersebut tidak terlalu penting untuk diajarkan.

Dalam proses pembelajaran, pendekatan contextual teaching and learning (CTL) – menurut penulis – salah satu diantara beberapa pendekatan lainnya, yang cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan siswa sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yakni : konstruktivisme, bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessement) (Riyanto, 2005 : 112). Proses pembelajaran harus melibatkan seluruh potensi yang ada yaitu somatis, auditori, visual dan intelektual sehingga pembelajaran berlangsung efektif dan efisien ditambah dengan kondisi yang menyenangkan (Meier, 2002 : 91-92). Disamping itu, proses pembelajaran yang berbasis pada siswa harus menyentuh akar AMBAK yaitu Apakah Manfaatnya BAgiKU (Siti Suliha dan Nurul Umamah, tt : 116).

Saat ini muncul beberapa kecenderungan yang cukup menggembirakan dalam dunia pendidikan. Beberapa kecenderungan tersebut, antara lain: (1) penempatan empat pilar pendidikan UNESCO: learning to know, leraning to do, learning to be, dan leraning to life together sebagai paradigma pembelajaran, (2) kecenderungan bergesernya orientasi pembelajaran dari teacher centered menuju student centered, (3) kecenderungan pergeseran dari content-based curriculum menuju competency-based curriculum, (4) perubahan teori pembelajaran dan asesmen dari model behavioristik menuju model konstruktivistik, dan (5) perubahan pendekatan teoretis menuju kontekstual, (6) perubahan paradigma pembelajaran dari standardization menjadi customization, (7) dari evaluasi dengan paper and pencil test yang hanya mengukur convergen thinking menuju open-ended question, performance assessment, dan portfolio assessment, yang dapat mengukur divergen thinking (http://www.freewebs.com/santyasa/PDF_Files/PEMBE LAJARAN _INOVATIF_1.pdf).

Banyak konten atau isi pendidikan dicela dikarenakan tidak relevan dengan apa yang dibutuhkan oleh individu, karena kurang perhatian terhadap perkembangan keilmuan dan pembangunan masyarakat atau hanya untuk menjawab masalah dalam satu masa saja. Metode yang berkaitan dengan pendidikan juga dicela dikarenakan karena hanya melihat sekilas saja terhadap kompleksitas pelaksanaan proses pendidikan. Faktanya dalam beberapa program sekolah dilihat sudah out of date atau ketinggalan zaman.

Kurikulum sekolah belum memperdayakan pembelajaran sosial. Tetapi disisi lain seorang individu harus memahami posisinya dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Proses pendidikan banyak menitik beratkan pada aspek hafalan padahal sebuah teori ilmiah ada bukan karena dipelajari, tetapi ditemukan. Kurikulum sekolah jarang dikaitkan dengan tingkat kreativitas, intuisi, imajinasi, kegembiraan dan menafikan terhadap aktivitas ilmiah. Kurikulum seharusnya berisi tentang pendidikan sosial, ilmiah (sciencetific), teknologi, artistik (keindahan/seni), keahlian pekerjaan, pekerjaan kasar, fisik dan lain sebagainya.

 

  1. D. Jalan Setapak Menuju Demokrasi

Untuk beberapa tahun terakhir ini, kritik diarahkan kepada lembaga pendidikan atau sekolah atas tumbuhnya ketidakadilan, diskriminasi dan paham otoriter. Alasan ini dapat dipahami, ketika banyak kekeliruan yang tumbuh di sekolah, padahal masyarakat sebagai pencetusnya memberikan amanat dan dilanggar selama berabad-abad. Bagaimanapun juga, fakta ini terjadi disekolah dan mendapat persetujuan menyeluruh terhadap keberlangsungannya yaitu pembedaan dan sikap otoriter. Permasalah rumit yang menghadang pendidikan di Indonesia berkisar pada aspek kualitas, relevansi dan peningkatan pemerataan pendidikan bagi seluruh masyarakat Indonesia meskipun dalam hal pemerataan pendidikan sudah dijamin oleh Undang-Undang. Penyimpangan dan keterpurukan dalam dunia pendidikan disebabkan : 1. krisis nilai yang melanda peserta didik sehingga mudah sekali untuk tawuran; 2. kualitas pendidikan yng cenderung merosot; 3. angka drop-out yang cukup tinggi; 4. ketidak-jujuran pihak-pihak yang terlibat dalam pendidikan muali peserta didik, guru, dosen dan personalia pemangku kebijakan yang korup (Sutikno, 2006 : 27)

Ini tentu saja hal yang benar, ketika otoritas pendidikan menyatakan ambisi untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang melihat persamaan hak dan kesempatan. Kebutuhan ekonomi di beberapa negara, tujuan ideologi di lain tempat, peperangan untuk memperoleh kebebasan di berbagai penjuru dunia, dalam beberap kasus, dalam kehidupan sosial yang adil, masukan diperlukan untuk membentuk pendidikan semakin demokratis. Diantara masyarakat tradisional dan modern, keduanya memiliki kewajiban untuk mendorong perhatian masyarakat yang lebih besar terhadap sekolah. Negara industri, baik kapitalis atau sosialis untuk terus mengembangkan pendidikan yang lebih baik. Ujian masuk, test kompetensi dan kesamaan metode untuk mendapatkan kemampuan pendidikan telah dihilangkan, secara fakta (de facto) meskipun tidak secara aturan (de jure), masih ada usaha untuk mempertahankannya. Kemajuan yang tidak dapat dihindari untuk meningkatkan demokrasi terhadap perbaikan dalam struktur pendidikan, adalah dimensi dan kemampuan pedagogik praktis.

Pendidikan yang benar secara universal – pada masa peradaban modern belum waktunya untuk berbangga – kalau selalu menolak, untuk memperbaiki keadilan secara menyeluruh, terhadap penghargaan yang berlebihan. Adapun masyarakat miskin dibenarkan untuk ditolak yang hanya dihalangi oleh beberapa orang kaya. Pembenaran terhadap penolakan dan pengguguran hak orang miskin untuk mendapatkan pendidikan yang layak hanya karena disebabkan oleh orang-orang kaya. Pendidikan sebagai alat untuk membangun karakter bangsa (national character building) seharusnya dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat tanpa ada pembedaan warna kulit, ras, kaya-miskin dan gender.

Sejalan dengan keinginan diatas, paradigma pendidikan multikulturalisme, merupakan gejala baru di dalam pergaulan umat manusia yang mendambakan persamaan hak, termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama untuk semua orang (“education for all”). Pendidikan multikultural berjalan bergandengan tangan dengan proses demokratisasi di dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan multikultural berjalan bergandengan tangan dengan proses demokratisasi di dalam kehidupan masyarakat. Proses demokratisasi itu dipicu oleh pengakuan terhadap hak asasi manusia yang tidak membedakan perbedaan-perbedaan manusia atas warna kulit, agama dan gender. Pengertian Pendidikan Multikultural Menurut James. A. Banks adalah konsep, ide atau falsafah sebagai suatu rangkaian kepercayaan (set of believe) dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis di dalam membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan-kesempatan pendidikan dari individu, kelompok maupun negara. budaya dan etnis di dalam membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan-kesempatan pendidikan dari individu, kelompok maupun negara (http://rusnaini.staff.fkip.uns.ac.id/files/2009/02/pokok-bahasan-1.pdf).

Dalam sebuah tabel tentang pendaftaran di sekolah tinggi (SMA) berdasarkan pekerjaan orang tua yang diambil dari beberapa negara maju seperti di Australia, Italy, Jepang, Amerika, Inggris dan Norwegia serta Yugoslavia menunjukkan adanya ketidak adilan pendidikan. Masyarakat miskin cenderung termarginalkan dalam pendidikan daripada orang kaya. Fakta ini patut disesali dan inilah faktanya, dan sistem pendidikan tidak mampu untuk menghilangkannya.

Tabel Pendaftaran di Higher Education

berdasarkan jabatan/kedudukan yang diambil dari beberapa negara

 

 

 

Country

Liberal Profesional and Management Workes
Student (as percentage of total enrolment) Group (percentage of total active population) Student (as percentage of total enrolment) Group (percentage of total active population)
Austria 52-4 7-4 5-5 63-7
Italy 11-6 1-7 15-4 59-6
Japan 52-8 8-7 8-7 44-2
Norway 33-6 10-4 23-9 55-4
UK 62-9 21-5 27-2 71-5
USA 52-4 22-9 26-6 57-4
Yugoslavia 17-9 8-8 19-0 28-0

 

Disamping menggagas pendidikan multikulturalisme, beberapa cara yang dapat digunkan untuk menumbuhkan pendidikan yang demokratis antara lain dengan cara membuat sistem seleksi ujian dan ijazah yang jelas. Sistem penghargaan bagi yang berprestasi, yang berbakat dan yang patuh, sehingga secara perlahan di dalam masyarakat tidak ada perasaan perbedaan. Menumbuhkan hubungan yang harmonis antara guru dan siswa serta merancang sistem manajemen yang baik.

  1. E. Konsep Lama dan Kebutuhan Konsep Baru

Pada bagaian sebelumnya, telah dicoba untuk memaparkan apa yang sedang dibutuhkan sebagai bahan pertimbangan mendasar dalam koteks pembenahan terhadap struktur dan konsep pendidikan. Perubahan struktur dan kondisi masyarakat yang semakin kompleks perlu digagas kembali dalam sebuah konsep dan sistem pendidikan yang egaliter. Pengembangan kekuatan dalam bidang produksi dan pendapatan asli negara (devisa) harus selalu ditingkatkan dalam upaya pembangunan bangsa dan negara.

Pelajaran dari pendidikan memberikan pandangan yang sangat penting terkait gambaran yang banyak tentang kemajuan sosial. Ketika pendidikan tidak mampu dengan sendirinya memperbaiki kebobrokan masyarakat, maka masyarakat akan berusaha meningkatkan kemampuan kontrol terhadap nasibnya sendiri. Sehingga gagasan – gagasan baru dalam proses pendidikan perlu adanya perbaikan, bukan membiarkan dan berjalan dengan konsep pendidikan yang sudah kuno atau usang. Perkembangan sistem pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dunia global. Ini adalah sebuah realita, antara sekolah dan pendidikan tidak akan menyerah sampai terbentuk sebuah struktur masyarakat yang di dalamnya orang-orang yang mampu bersifat demokratis dan saling menghargai.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, pendidikan merupakan permasalahan besar yang menyangkut nasib dan masa depan bangsa dan negara. Tuntutan terhadap reformasi politik, ekonomi, sosial, hak asasi manusia, sistem pemerintahan dan lain sebagainya tidak akan berhasil tanpa reformasi sistem pendidikan. Pendidikan memegang peranan kincu dalam menyedikan sumber daya manusia yang sangat berkualitas, bahkan menentukan berhasil atau gagal sebuah pembangunan. Melihat begitu besarnya peranan pendidikan maka harus ada pengembangan kualitas pendidikan yang berkelanjutan (continous quality improvement) dan Total Quality Management dalam proses pendidikan. Tentu saja pengembangan kualitas pendidikan denga memunculkan dan mengapliaksikan konsep-konsep baru dalam pendidikan seperti MBS, KTSP dan lain sebagainya juga harus didukung dengan perubahan sistemnya yang mencerminkan good government and clean governant. Sehingga yang menjadi tujuan mulia pendidikan dapat direalisasikan dan diwujudkan.

Bab III. Kesimpulan

Beberapa deskripsi di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Hubungan dan interaksi antara pendidikan dan masyarakat harus berjalan bersama-sama. Pertentangan antara pendidikan dan masyarakat harus mampu diatasi sehingga kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan berkualitas dan atau sebaliknya kebutuhan terhadap peran dan dukungan masyarakat kepada pendidikan berbanding lurus.
  2. Proses pembelajaran harus mampu membentuk peserta didik menjadi manusia seutuhnya sebagai makhluk sosial, maka kondisi-kondisi sosial yang ada dalam masyarakat harus mampu diejawantahkan dalam proses pembelajaran.
  3. Proses pembelajaran harus menyentuh pada aspek kebutuhan siswa/peserta didik sehingga para siswa/peserta didik mengetahui dan memahami manfaat belajar yang dilakukannya. Proses pembelajaran harus berjalan secara efektif, efisien dan egaliter.
  4. Proses pendidikan harus didasarkan pada persamaan hak dan pemerataan dalam memperoleh pendidikan yang layak bagi semua masyarakat. Sistem pendidikan harus mampu menghapus dan menghilangkan diskriminasi seperti yang terjadi dalam struktur masyarakat.
  5. Pengembangan kualitas pendidikan harus terus dilakukan dengan usaha perbaikan terhadap konsep-konsep pendidikan yang sudah usang/kuno dengan inovasi konsep baru dalam pendidikan. Countinous quality improvement, total quality management harus menajdi dasar dalam pengembangan pendidikan.

Daftar Pustaka

Sumber Buku Pokok/Report Book

Faure, Edgar dkk, Learning To Be : The World of Education Today and Tomorrow, Paris : Unesco.

 

Sumber Buku Penunjang

Forum Mangunwijaya, 2007, Kurikulum Yang Mencerdaskan Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif, Jakarta : Kompas.

Meier, Dave, 2002, The Accelerated Learning Hand Book, Bandung : Kaifa.

Mulyasa, E, 2006, Kurikulum Yang Disempurnakan : Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E, 2008, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan : Suatu Pandangan Praktis, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E, 2007, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Riyanto, Yatim, 2005, Paradigma Pembelajaran, Surabaya : Unesa University Press.

Sa’ud, Udin Syaefudin dan Abin Syamsudin Makmun, 2008, Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Sutikno, M. Sobary, 2006, Pendidikan Sekarang dan Masa Depan “Suatu Refleksi Untuk Mewujudkan Pendidikan yang Bermakna, Mataram : NTP Press.

Suliha, Siti dan Nurul Umamah, TT, “Quantum Teaching (Mempraktikkan Quantum Teaching dalam Kelas” dalam “Landasan Pembelajaran” Kumpulan Makalah Program Pascasarjan Univ. Negeri Malang. Naskah tidak diterbitkan.

 

Sumber Internet

__________http://agribisnis.deptan.go.id/web/diperta-tb/produkhukum/bab_26_ narasi.pdf

_________http://www.e-smartschool.com

_________ttp://www.freewebs.com/santyasa/PDF_Files/PEMBELAJARAN _INO VATIF_1.pdf.

________http://rusnaini.staff.fkip.uns.ac.id/files/2009/02/pokok-bahasan-1.pdf

About baharagussetiawan

pemerhati pendidikan
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s