Learning to be chapter III-IV

MASYARAKAT DAN TANTANGAN MASA DEPAN  PENDIDIKAN

DALAM KONTEKS GLOBALISASI DAN STANDARISASI PENDIDIKAN

Bab I. Pendahuluan

Berbagai studi menunjukkan, pendidikan bukan saja merupakan kebutuhan dasar manusia tetapi di sisi lain pendidikan juga bermafaat untuk membangun masyarakat terpelajar dan terdidik. Pendidikan dapat menjadi landasan yang kuat untuk memacu kemajuan suatu bangsa baik secara ekonomi yang termasuk di dalamnya perkembangan industri, ilmu pengetahuan dan teknologi, politik dan sosial. Mengaca kepada negara-negara maju, pembangunan dan reformasi pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Karena disamping menajdi landasan bagi kemajuan, pendidikan memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan  watak suatu bangsa (Nation Character Building) (Mulyasa, 2007 : 4).

Pembangunan dan reformasi pendidikan di Indonesia saat ini sudah menunjukan progress dan kemajuan yang cukup menggembirakan meskipun jauh dari kata ideal. Semangat desentralisasi pendidikan di Indonesia, konsep Manajemen Berbasis Sekolah/Madrash, munculnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), program Bantuan Operasioanl Sekolah (BOS), UU Sisdiknas, disetujuinya anggaran 20 % dari APBN untuk pendidikan dan beberapa gagasan dalam “educational policy” yang lain merupakan gambaran perhatian pemerintah yang cukup serius terhadap dunia pendidikan. Pembangunan dan reformasi pendidikan yang diantara tujuannya untuk merealisasikan pemerataan pendidikan, peningkatan mutu pendidikan dan lain sebagainya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh perkembangan zaman yang sering disebut dengan era globalisasi. Kompleksitas globalisasi menuntut manusia-manusia yang mampu bersaing dengan standarisasinya dan ini tidak dapat direalisasikan kecuali hanya dengan pendidikan yang bermutu.

Pendidikan yang bermutu tidak hanya dipengaruhi oleh satu atau dua faktor saja tetapi dipengaruhi oleh komponen dan faktor yang sangat banyak. Mulai dari perhatian pemerintah, metode pembelajaran, isi kurikulum, profesionalisme guru, motivasi peserta didik, dukungan staekholder dan saat ini kebijakan sertifikasi ISO 9001 : 2000 adalah sebagaian kecil dari unsur-unsur yang mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam konteks ke-Inonesia-an.

Seiring dengan deskripsi di atas, dalam buku Learning To Be : The World of Education Today and Tomorrow karangan Edgar Faure dan kawan-kawan yang menjadi fokus pembahasan tulisan ini, mengeksplosrasi beberapa inti pembahasan. Adapun pembahasan tersebut secara sederhana dapat disinggung di sini diantaranya membahas tentang korelasi atau hubungan antara pendidikan dan masyarakat, metode dan isi, pemerataan pendidikan, proses pembelajaran, persamaan hak dan pendidikan yang egaliter dan kebutuhan konsep baru dalam proses pendidikan serta pendidikan yang demokratis. Disamping itu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendorong perkembangan industrialisasi diberbagai negara juga dieksplorasi untuk menggambarkan bahwa pendidikan mempunyai peranan yang cukup signifikan untuk meredam dan mengatasi ketidakseimbangan kemajuan zaman. Pendeknya adalah bagaimana pendidikan itu mampu memberikan kontribusi terkait dengan apa yang dibutuhkan oleh manusia saat ini di era globalisasi.

 

 

 

 

Bab II. Pembahasan

Pendidikan dan Masyarakat : Pemikiran 4 Konsep Pendidikan

Sebagian tugas pokok dari rancangan seorang perencana pendidikan dalam menghadapi tantangan dan sebagai bahan evaluasi dalam konteks pengembangan sistem pendidikan, sebagaian besar  hanya tertuju kepada faktor/aspek yang bersifat kuantitatif. Tetapi perlu disadari bahwa pertanyaan mendasar, substansi pertanyaan merupakan faktor esensial terkait hubungan antara pendidikan dan masyarakat, pendidikan dan pelajar, pendidikan dan pengetahuan, antara tujuan atau sasaran  jelas yang ingin dicapai.

Pendidikan merupakan suatu gambaran dunia seluasnya. Pendidikan adalah kebutuhan masyarakat, selama pendidikan sejalan dengan orientasi masyarakat, dan khususnya membantu masyarakat untuk mengembangkan kemampuan yang produktif dengan jalan menjamin pengembangan sumber daya manusia. Dalam perspektif universal,  pada suatu saat diharapkan pendidikan memiliki pengaruh terhadap kondisi lingkungan tersebut, sekali pun hanya sekedar menghasilkan pengetahuan lingkungan.  Jadi, dengan demikian, pendidikan mempunyai peranan untuk menyelaraskan kondisi-kondisi objektif dengan masyarakat yang memilki perubahan bentuk dan kemajuan.

Perjalanan sejarah hubungan atau interaksi antara pendidikan dan masyarakat dianggap cukup, tidak ada alasan mengapa sebuah proses dialektika ini – dan pandangan optimis ini – tidak bisa secara jernih ,untuk saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan. Yang jelas, bagaimanapun, pada tingkat realitas sosial, bahwa sampai saat ini, kita ketahui pendidikan berada dalam tatanan masyarakat, bertahan sepajang masa berdasarkan dasar-dasar  nilai yang ada dan keseimbangan kekuatan serta pengaruh yang dijaga dan dipertahankan, dengan segala interaksi diantara keduanya secara posistif dan sifat-sifat negatif dalam proses mencapai  tujuan masa depan dan arah sejarah bangsa.

Selama guru, pelajar dan pengalaman pribadi orang tua saling terkait, fungsi sosial praktis pendidikan – bentuk kemampuan pedagogis akan berlangsung dalam suatu konteks yang tidak terbatas dan bersifat kompleks. Sementara dalam prakteknya kebebasan tenaga pendidikan menjelaskan batasan tenaga pendidikan adalah kelemahan, dan itu bersifat menindas, dari efek memaksa.

Pertentangan adalah merupakan fakta dasar yang alamiah dalam situasi untuk membantu melihat letak perbedaan pendapat terhadap hubungan antara pendidikan dan masyarakat. Brodly berpendapat, diantaranya mungkin dapat dikelompokkan ke dalam empat pandangan sekolah :

  1. Idealisme, yang mana menganggap  pendidikan  tersebut ada di dalam diri dan berjalan dengan sendirinya.
  2. Voluntarism (suka rela), pendidikan akan bisa berjalan dengan sangsi dan harus mampu merubah dunia, dan mengikuti beberapa perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat.
  3. Deterministic mekanism (paham penentuan mekanis), melihat bahwa bentuk dan masa depan pendidikan dikendalikan dan mengikuti realitas lingkungan.
  4. Akhirnya, pandangan sekolah yang berasal dari ketiga pendapat di atas, dan dengan menerima sebagai teori pendidikan tersebut harus dikonsep kembali dengan kritik yang jelas dan tajam dan ketika masyarakat dipisahkan dari pendidikan akan tetap memperburuk  dan mengekalkan konsep pendidikan tersebut.  Pandangan tersebut  merupakan gambaran bisa atau tidaknya pendidikan diperbaiki terpisah dari perubahan menyeluruh masyarakat. Bagaimanapun, terlihat jelas perbedaan terhadap permasalahan ini, usaha untuk mempertahankan dunia/lingkungan yang berhubungan dengan pendidikan dapat menjadi baik dalam setiap tahap, dengan perubahan mendalam terhadap pendidikan itu sendiri, dalam konteks untuk perubahan sosial yang akan datang.

Dengan satu atau beberapa alasan lainnya, masing-masing posisi mempunyai beberapa pertimbangan logis. Bagaimanapun, rupa-rupanya tidak ada satupun yang mampu menjelaskan kepada kita untuk menjadi cakap dengan penjelasan yang komplit pada situasi sosial yang nyata, atau secara penuh mampu mengilhami tindakan yang kongkrit dan bijaksana. Dalam persepsi kita, terdapat hubungan yang bersifat tertutup – bersamaan dan terlambat – diatara perubahan lingkungan sosial ekonomi dan perubahan bentuk struktur pelaksanaan pendidikan, yang dipercayai menghasilkan kontribusi yang terkait dengan tugas, berkenaan dengan mekanisme perjalanan sejarah bangsa. Terlebih lagi, rupa-rupanya hal tersebut mampu melengkapi untuk memahami pengetahuan terhadap lingkungan dengan melaksanakan pendidikan yang mungkin dapat membantu masyarakat untuk mengatasi masalahnya dan, melaksanakan usaha tersebut yang terfokus kepada pelatihan menjadi “manusia seutuhnya” dan siapa saja yang secara serius melihat diri mereka sendiri dan kebebasan manusia secara kolektif, dan ini merupakan kontribusi yang besar untuk perubahan dan membentuk masyarakat yang humanis.

 

  1. 1. Tradisi dan Batasan-Batasan

Hubungan dan interaksi diantara masyarakat dan pendidikan begitu kompleks itu tidak dapat dijelaskan secara sederhana dan cukup memberikan penjelasan. Pendapat ini sangat jelas untuk mengaitkan tugas pendidikan kepada masyarakat dan masyarakat kepada pendidikan, yang saling mendukung dan tentu saja penjelasan yang sedemikian rupa membutuhkan penjelasan yang objectif dan itu merupakan tugas dari model kepemimpinan. Pengembangan yang bersifat objectif tidak dapat dirangcang dengan terburu-buru dan teratur dengan retorika sederhana yang telah digunakan di masa lalu. Sehingga membuat solusi kurang bermanfaat untuk sekarang dan sesudahnya.

Tingkatan, apakah yang terkait dengan pekerjaan atau hanya bagian (tergantung terhadap pertanyaan masyarakat), terlihat di dalam struktur pendidikan. Pertimbangan “pertama”, “kedua”, “atas”, “profesional”, “teknik”, atau keilmuan kesemuanya merupakan isi/muatan yang membuat perbedaan yang jelas. Pembelajaran merupakan sebuah profesi kepemimpinan. Masyarakat selalu beranggapan status sebagai seorang guru dipilih berdasarkan umur dan prestasi mental belajarnya. Pendeknya, disana terdapat tingkat kekakuan yang berlebihan dalam hubungan antara guru dan siswa. Ketika hubungan tersebut menjadi sangat keras, sempit dalam mempelajari kesadaran terhadap tanggung jawab dan akan mencegah munculnya respon terhadap potensi positif.

  1. 2. Metode dan Isi

Pendidikan dan metode yang berhubungan dengan pendidikan di dunia muncul di bawah motivasi. Isi pendidikan dicela dikarenakan tidak relevan dengan apa yang dibutuhkan oleh individu, karena kurang perhatian terhadap perkembangan keilmuan dan pembangunan masyarakat atau hanya untuk menjawab masalah dalam satu masa saja. Metode yang berkaitan dengan pendidikan juga dicela dikarenakan karena hanya melihat sekilas saja terhadap kompleksitas pelaksanaan proses pendidikan. Faktanya dalam beberapa program sekolah dilihat sudah out of date atau ketinggalan zaman. Beragam masalah yang saat ini sedang dihadapi oleh masyarakat seperti : militer, sosial dan konflik radikal, musibah kelaparan yang melanda dunia, polusi, pergaulan dan status antara pemuda-pemudi, dan rasisme terhadap kelompok minoritas. Pendidik selalu beranggapan bahwa hal tersebut tidak terlalu penting untuk diajarkan.

Kurikulum sekolah belum memperdayakan pembelajaran sosial. Tetapi disisi lain seorang individu/peserta didik harus memahami posisinya dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Seharusnya peserta didik diberi pemahaman tentang sikap demokratis dalam masyarakat. Anak harus selalu memiliki visi terhadap dunia tentang bagaimana ia hidup dan memutuskan masa depannya. Tradisi pendidikan ilmiah juga rendah, dalam konteks bagaimana cara menghubungkan dengan proses pembelajaran di kelas. Sebuah teori ilmiah ada bukan karena dipelajari, tetapi ditemukan. Kurikulum sekolah jarang dikaitkan dengan tingkat kreativitas, intuisi, imajinasi, kegembiraan dan sangsi terhadap aktivitas ilmiah. Kurikulum seharusnya berisi tentang pendidikan sosial, ilmiah (sciencetific), teknologi, artistik (keindahan/seni), keahlian pekerjaan, pekerjaan kasar, fisik dan lain sebagainya.

 

  1. 3. Jalan Setapak Menuju Demokrasi

Untuk beberapa tahun terakhir ini, kritik diarahkan kepada lembaga pendidikan atau sekolah atas tumbuhnya ketidakadilan, diskriminasi dan paham otoriter. Alasan ini dapat dipahami, ketika banyak kekeliruan yang tumbuh di sekolah, padahal masyarakat sebagai pencetusnya memberikan amanat dan dilanggar selama berabad-abad. Bagaimanapun juga, fakta ini terjadi di sekolah dan mendapat persetujuan menyeluruh terhadap keberlangsungan perbedaan dan sikap otoriter.

Ini tentu saja hal yang benar, ketika otoritas pendidikan menyatakan ambisi untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang melihat persamaan hak dan kesempatan. Kebutuhan ekonomi di beberapa negara, tujuan ideologi di lain tempat, peperangan untuk memperoleh kebebasan di berbagai penjuru dunia, dalam beberap kasus, dalam kehidupan sosial yang adil, masukan diperlukan untuk membentuk pendidikan semakin demokratis. Diantara masyarakat tradisional dan modern, keduanya memiliki kewajiban untuk mendorong perhatian masyarakat yang lebih besar terhadap sekolah. Negara industri, baik kapitalis atau sosialis untuk terus mengembangkan pendidikan yang lebih baik. Ujian masuk, test kompetensi dan kesamaan metode untuk mendapatkan kemampuan pendidikan telah dihilangkan, secara fakta (de facto) meskipun tidak secara aturan (de jure), penghargaan yang tradisional. Hal ini merupakan kemajuan yang tidak dapat dihindari untuk meningkatkan demokrasi terhadap perbaikan dalam struktur pendidikan, dimensi dan kemampuan pedagogik praktis.

Pendidikan yang benar secara universal, pada masa peradaban modern belum waktunya berbangga, kalau selalu menolak, memperbaiki keadilan secara menyeluruh, terhadap penghargaan yang berlebihan. Adapun masyarakat miskin dibenarkan untuk ditolak yang hanya dihalangi oleh beberapa orang kaya. Dalam sebuah tabel tentang pendaftaran di sekolah tinggi (SMA) berdasarkan pekerjaan orang tua yang diambil dari beberapa negara maju seperti di Australia, Italy, Jepang, Amerika, Inggris dan Norwegia serta Yugoslavia menunjukkan adanya ketidak adilan pendidikan. Masyarakat miskin cenderung termarginalkan dalam pendidikan daripada orang kaya. Fakta ini patut disesali dan inilah faktanya, dan sistem pendidikan tidak mampu untuk menghilangkannya.

 

 

 

Country

Liberal Profesional and Management Workes
Student (as percentage of total enrolment) Group (percentage of total active population) Student (as percentage of total enrolment) Group (percentage of total active population)
Austria 52-4 7-4 5-5 63-7
Italy 11-6 1-7 15-4 59-6
Japan 52-8 8-7 8-7 44-2
Norway 33-6 10-4 23-9 55-4
UK 62-9 21-5 27-2 71-5
USA 52-4 22-9 26-6 57-4
Yugoslavia 17-9 8-8 19-0 28-0

 

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menumbuhkan pendidikan yang demokratis antara lain dengan cara membuat sistem seleksi ujian dan ijazah yang jelas. Sistem penghargaan bagi yang berprestasi, yang berbakat dan yang patuh, sehingga secara perlahan di dalam masyarakat tidak ada perasaan perbedaan. Menumbuhkan hubungan yang harmonis antara guru dan siswa serta merancang sistem manajemen yang baik.

  1. 4. Konsep Lama dan Kebutuhan Konsep Baru : sebuah Epilog

Pada bagaian sebelumnya, telah dicoba untuk memaparkan apa yang sedang dibutuhkan sebagai pertimbangan mendasar terhadap struktur dan tentu saja konsep pendidikan. Perubahan struktur dan kondisi masyarakat yang semakin kompleks perlu digagas kembali sebuah konsep dan sistem pendidikan yang egaliter. Pengembangan kekuatan dalam bidang produksi dan pendapatan asli negara (devisa) harus selalu ditingkatkan dalam upaya pembangunan bangsa dan negara.

Pelajaran dari pendidikan memberikan pandangan yang sangat penting terkait gambaran yang banyak tentang kemajuan sosial. Ketika pendidikan tidak mampu dengan sendirinya memperbaiki kebobrokan masyarakat, maka masyarakat akan berusaha meningkatkan kemampuan kontrol terhadap nasibnya sendiri. Sehingga gagasan – gagasan baru dalam proses pendidikan perlu adanya perbaikan, bukan membiarkan dan berjalan dengan konsep pendidikan yang sudah kuno atau usang.

Sepanjang kita percaya terhadap hubungan langsung antara pertumbuhan harga/ekonomi dan struktur pendidikan, maka kita tidak akan memahami pemikiran apa yang dibutuhkan dalam meningkatkan kemampuan kerja mendasar guna memenuhi lowongan perkerjaan yang tersedia. Perkembangan sistem pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dunia global. Ini adalah sebuah realita, antara sekolah dan pendidikan tidak akan menyerah sampai terbentuk sebuah struktur masyarakat yang di dalamnya orang-orang yang mampu bersifat demokratis dan saling menghargai.

Tidak dapat disangkal, sebagian besar ajaran dalam konteks pendidikan terakiat dengan sekolah : pendidikan sama dengan sekolah. Tentu saja, benar kalau sekolah dikatakan bagian dari pendidikan, dalam terminologi yang absolut, berdasarkan tingkatan pemikiran dan perbaikan secara kualitatif, pengembangan berkesinambungan berdasarkan pijakan dalam sistem pendidikan. Penting sekali untuk melihat antara sekolah terkait dengan pemahaman lain tentang pendidikan dan terhadap komunikasi antara meningkatkan atau melemahkan generasi. Penelitian psikologi kontemporer menggambarkan pertanyaan/tanda tanya tentang keterbatasan proses pendidikan berdasarkan pilihan dan perubahan yang cepat memupuskan banyak orang dikarenakan satu faktor saja. Dengan lain kata, perlu ada pemaknaan dan pemahaman kembali terhadap pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang selama ini hanya dimaknai sekolah harus dirubah secara komprehensif. Artinya disamping kebutuhan terhadap metode, isi tentu saja pemaknaan konsep baru tentang pendidikan harus dilakukan.

Bab II. Tantangan :

Upaya Menjawab Dampak Perkembangan Industrialisasi

Pokok persoalan terkait dengan sistem pendidikan adanya tekanan dari faktor internal maupun eksternal. Tekanan dari internal adanya kesalahan fungsi dan kontradiksi dalam sistem pendidikan. Terlihat adanya jalan buntu keinginan untuk membuat tujuan baru strategi dan melihat beberapa pilihan dalam rangka pengembangan masa depan pendidikan. Bagaimanapun, beberapa eksperimen yang telah dilakukan menunjukkan adanya penekanan dan penegasan tidak cukup menjadi dirinya sendiri untuk selaras dengan perubahan di dalam struktur pendidikan. Sedangkan tekanan dari faktor eksternal yang sangat kuat saat ini adalah pengembangan bentuk baru dari suatu kondisi perubahan yang nyata. Sangat jelas sekali bukan waktunya lagi untuk melanjutkan konsep lama, tetapi disisi lain masih adanya sikap keragu-raguan yang berlebihan terhadap pilihan konsep baru. Orientasi tujuan masa depan muncul dari luar faktor ini.

 

  1. 1. Perkembangan

Ilmu pengetahuan dan teknologi sebelumnya tidak pernah menunjukkan kemajuan yang mencolok terhadap manfaat dan potensinya. Selama abad 20, pengetahuan membuat lompatan atau kemajuan yang luar biasa. Penelitian dan inovasi di perguruan tinggi hidup, sehingga perubahan begitu cepat terjadi, akibat pengetahuan manusia yang luas dan angka usaha masyarakat dalam bidang science. Berbanding lurus, kemajuan yang sangat luar biasa ini secara nyata mengurangi jarak antara penemuan science dan aplikasinya atau pemakaiannya. Berikut ini gambaran jarak perbedaan ketika science ditemukan dengan pemanfaatannya.

Jenis Penemuan Tahun Penemuan Tahun Pemanfaatan Jarak
Photography 1727 1939 1122
Electrik Motor 1821 1886 65
Telephone 1820 1876 56
Radio 1867 1902 35
Vacuum Tube 1884 1915 33
X-ray Tubes 1895 1913 18
Radar 1925 1940 15
Television 1922 1934 12
Nuclear Reactor 1932 1942 10
Atomic Bomb 1939 1945 6
Transistor 1948 1951 3
Solar Batery 1953 1955 2

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong adanya perpidahan atau urbanisasi penduduk dari desa ke kota. Sehingga hal ini menimbulkan masa depan yang membingungkan. Di satu sisi manusia dapat menjelajah bulan dan disaksikan seluruh dunia, sistem komunikasi yang maju dan perjalanan yang singkat dengan ditemukannya pesawat, di sisi lain tingkat pembunuhan semakin tinggi. Mengagumkan prospek pengembangan ilmu pengetahuan, di satu sisi sangat mengesankan, di sisi lain sangat mengerikan. Kemajuan yang tidak merata harus disikapi dengan pembangunan masyarakat pedesaan. Permasalahan yang dihadapi adalah memasukan nilai-nilai ilmu pengetahuan ke dalam kultur atau budaya masyarakat.

Tidak dapat dipungkiri, pengembangan semua daerah desa sebuah keharusan termasuk mengadopsi ilmu pengetahuan dalam kerangka berfikir. Pembangunan pedesaan hanya bisa dilakukan dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan ke dalam kultur tradisi masyarakat, dan integrasi pemikiran secara universal dalam kehidupan nasional. Budaya atau kultur hanya bisa survive dengan mengembangkan ketrampilan terhadap perubahan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi komponen pokok di dalam pelaksanaan pendidikan. Keduanya harus disatukan ke dalam seluruh keinginan aktivitas pendidikan anak, kaum muda dan dewasa, dalam rangka membantu setiap individu untuk mengontrol semangat sosialnya secara alami dan produktif, dengan cara demikian dapat berhasil untuk mengontrol/menguasai dirinya sendirinya, pilihan dan perilaku, dan akhirnya, kedunya harus mampu membantu manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sesuai dengan potensi pemikiran sehingga harus mampu untuk memajukan ilmu pengetahuan tanpa memperbudak pengetahuan tersebut.

 

  1. 2. Jurang Pemisah atau Perbedaan

Kemajuan dalam beberapa dekade ini, menunjukkan adanya jurang pemisah atau perbedaan yang cukup signifikan. Pertumbuhan ekonomi seiring pembangunan negara, khususnya terkait dengan pertumbuhan wilayah sangat jauh dari kata memadai. Berikut ini gambar yang menunjukkan perbedaan antara golongan kaya dan miskin serta pertumbuhan ekonomi dengan meningkatnya populasi penduduk di beberapa negara.

 

 

 

 

 

 

 

 

The gap between rich and poor nations : population and GNP distribution in 1970.

 

Salah satu faktor terpenting dari sebuah konsekuensi tersebut yaitu pembangunan adalah persoalan tenaga kerja yang sangat akut. Semakin tingginya tingkat pengangguran seiring kemjuan industri negara-negara. Pasar tenaga kerja yang ada tidak sanggup memenuhi kebutuhan para pencari kerja. Salah satu yang paling menggangu, pengangguran merupakan kaum muda termasuk yang berasal dari angka lulusan sarjana dan diploma. Penganguran yang seperti itu 2 atau 3 dari seluruh populasi pengangguran berumur tidak lebih dari 25 tahun.

Perbedaan antara pedesaan dan perkotaan terletak antara yang bekerja di wilayah dan diluar wilayah merupakan sebagian tanda adanya perbedaan tersebut.  Pengembangan industri akan membantu meningkatkan pendapatan negara, tetapi usaha untuk mencapai peningkatan yang maksimum untuk GNP hanya dengan mengembangkan faktor ekonomi saja akan menimbulkan ketidakseimbangan dan menegaskan perbedaan sosial. Harus ada pembangunan yang merata pada wilayah politik, sosial, ekonomi dan tindakan yang berhubungan dengan pendidikan.

Perbedaan semakin nyata antara negara indutri maju dan negara industri tertinggal semakin melebarkan perbedaan tersebut. Ekspansi ekonomi diperlukan untuk menjawab tantangan ini. Adapun solusi yang dapat diambil adalah konteks pembangunan harus selaras dengan alam dan memberi makna baru terhadap perbedaan tersebut dan tentu saja hal ini memberikan inspirasi terhadap pendidikan untuk mengatasi ketidakseimbangan kemajuan dan pembangunan negara dalam bidang industri, ilmu pengetahuan dan teknologi. Terhadap tujuan tersebut pendidikan diarahkan untuk mengatasi ketidakseimbangan dan perbedaan pertumbuhan sosial dan ekonomi.

 

  1. 3. Resiko Lingkungan

Perkembangan teknologi bertujuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi, tetapi juga menimbulkan efek bahaya seiring dengan kehidupan manusia, khususnya adanya kemorosotan dunia yang terkait dengan lingkungan. Kesalahan tujuan pembangunan sudah dimulai pada abad ke 19 dengan cepatnya meningkatnya populasi dan pekembangan industri. Di Amerika Utara dan Selatan dan Afrika adanya penebangan hutan menimbulkan dampak erosi, banjir dan kekeringan. Sebuah gambaran dimana perkembangan ilmu pengetahuan yang diiringin dengan perkembangan industri semakin menimbulkan ketidakseimbangan ekologi. Perkembangan industri mendorong kepada aspek yang mebahayakan kultur atau budaya dan ketidakseimbangan ekologi atau lingkungan. Teknologi telah membawa dampak yang membahayakan, merusak keseimbangan persaudaraan antara manusia dan lingkungan, antara alam dan struktur sosial, antara kondisi kejiwaan manusia dan dirinya sendiri. Tugas untuk menghadapi berbagai dampak negatif tersebut merupakan pekerjaan berat pendidikan.

 

  1. 4. Ancaman

Masa depan masyarakat berada dalam demokrasi, pembangunan dan perubahan. Masyarakat harus sesuai dengan aturan demokrasi, pembangunan kemanusiaan dan perubahan. Tetapi sejarah tidak selamanya ideal. Demokrasi dapat mengkondisikan jalan pemikiran masyarakat terhadap rintangan dan perangkap. Kemajuan dalam manajemen science dan cybernetic, informasi dapat menyebar dan secara mendasar mengubah aspek fundamental praktek demokrasi dan menjadi icon masyarakat untuk menuntut hak yang lebih besar. Ini artinya demokrasi pendidikan harus mampu mempersiapkan untuk menghadapi ujian demokrasi yang sebenarnya. Demokrasi pendidikan tidak mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk memisahkan diri dari kehidupan politik praktis.  Inilah sebuah keuntungan dan kerugian kehidupan demokarsi dalam konteks pendidikan. Pendidikan di satu sisi bisa mempersiapkan masyarakat utuk hidup secara demokratis, tetapi di lain pihak pendidikan sendiri tidak bisa lepas dari campur tangan kebijakan politik praktis.

Ancaman semakin berkembang secara serius, meningkatnya perselisihan dan memunculkan reaksi yang konservatif. Kegagalan memahami pokok pertentangan/kontradiksi dalam dunia ini akan menjadikan kontradiksi tersebut semakin keras apabila tidak menemukan suatu solusi untuk mengatasinya, khususnya, untuk melihat keperluan untuk jalan pelaksanaan masa depan pendidikan .

Pendidikan harus mampu menghargai dirinya sendiri untuk apa pendidikan itu. Kemungkinan untuk membentuk sejarah dan masyarakat bukan merupakan alat permainan yang positif. Ini merupakan faktor esensi untuk meraih masa depan. Pendidikan mempunyai tugas untuk mempersiapkan umat manusia untuk menyesuaikan dengan perubahan, karateristik utama tujuan manusia. Pendidikan dalam konteks ini mempunyai dua dimensi. Pertama, pendidikan mempunyai tugas untuk mempersiapkan dalam menghadapi perubahan, menunjukkan masyarakat untuk mendapatkan dan manfaatnya, menciptakan kehidupan yang dinamis,  ketikdaksesuaian, tidak tradisional dalam kerangka berfikir. Demokrasi pendidikan harus mampu memberikan jalan keluar untuk mengatasi frustasi krisis personal dan identitas di dalam kehidupan dunia modern ini, berfikir pendidikan sepanjang masa, mengurangi kegelisahan dan meningkatkan semangat profesional.            Aspek yang berhubungan dengan pelaksanaan pendidikan tersebut, sering kali diabaikan, meskipun tidak masuk akal berharap lebih terhadap pendidikan dan dapat memberikan atau mengharapkan pendidikan sendiri untuk memberikan solusi terhadap problem dasar di dalam kehidupan.

 

 

 

 

 

Bab III. Sebuah Analisa :

Dalam Konteks Globalisasi dan Standarisasi Pendidikan

Berbagai definisi tentang globalisasi bisa ditemukan di berbagai tulisan tentang globalisasi. Tetapi, berbagai definisi tersebut pada dasarnya melihat globalisasi sebagai sebuah proses ke arah globalitas, yakni ‚… a social condition characterized by the existence of global economic, political, cultural, and environmental interconnections and flows that make many of the currently existing borders and boundaries irrelevant’. Sebagai sebuah rangkaian proses sosial globalisasi bisa dikenali melalui empat karakteristik yang berbeda yaitu : a. Penciptaan dan penggandaan; b. Perluasan dan pemekaran hubungan sosial, aktivitas dan saling-ketergantungan; c. Intensifikasi dan akselerasi; dan d. Kesadaran manusia. Pembedaan ini sebenarnya lebih berkaitan dengan kebutuhan analisis daripada sebagai refleksi dari realitas globalisasi, karena keempat karakteristik tersebut mungkin sangat terkait satu sama lain (http://msugiono.staff.ugm.ac.id/mkuliah/handout-global/Handout%202% 20Memahami%20Globalisasi.doc).

Terlepas dari berbagai karateristik dan definisi globalisasi, setiap perkembangan dan kemajuan zaman dan ini tidak bisa dilepaskan dari berbagai aspek kehidupan manusia adalah adanya faktor negatif dan positif serta resiko yang harsu dihadapi. Sehingga yang menjadi sebuah keniscayaan bukan menghindari realitas tersebut, tetapi bagaimana menjawab dan menemukan solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Terlebih lagi mampu mengelola resiko menjadi kesemapatan yang bermanfaat bagi manusia khususnya untuk masyarakat Indonesia.

Sejalan dengan pembahasan buku ini, ada beberapa analisa yang dapat dijelaskan dalam kerangka globalisasi dan standarisasi pendidikan khususnya dalam konteks ke-Inonesiaan. Dalam bingkai hubungan pendidikan dan masyarakat harus direncanakan secara komprhensif. Mengutip pendapat Coombs (1982) dalam Sa’ud dan Makmun (2008 : 8) menjelaskan bahwa perencanaan pendidikan adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat. Berdasarakan pengertian ini bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari masyarakat baik pendidikan dalam posisi dipengaruhi atau mempengaruhi. Artinya adalah pendidikan harus mampu memberikan jawaban bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan globalisasi saat ini. Dalam kerangka standarisasi pendidikan dalam konteks global, pendidikan harus mampu mewujudkan tujuan dari pendidikan itu sendiri yaitu menjadikan manusia seutuhnya, membentuk masyarakat yang humanis.

Dewasa ini muncul berbagai pelanggaran dan penyimpangan dalam dunia pendidikan yang terkait dengan kekerasan terhadap peserta didik dalam proses pembelajara. Pembelajaran merupakan sebuah profesi kepemimpinan. Masyarakat selalu beranggapan status sebagai seorang guru dipilih berdasarkan umur dan prestasi mental belajarnya saja. Pendeknya, disana terdapat tingkat kekakuan yang berlebihan dalam hubungan antara guru dan siswa. Adanya batasan antara murid dan guru semakin mendorong tidak munculnya respon positif diantara keduanya. Padahal dalam konteks ke-Indonesiaan proses pembelajaran harus mengedepankan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan yang dikenal dengan istilah PAKEM (Mulyasa, 2006 : 189). Seiring dengan munculnya undang-undang sertifikasi guru, maka pemilihan guru tidak hanya didasarkan pada aspek umur, kemapuan akademik saja tetapi juga kedewasaan psikologis.

Pendidikan yang terkait dengan pembelajaran dalam konteks metodenya muncul tanpa motivasi. Pembelajaran menjadi sesutu hal yang membosankan. Pada dasarnya sangat banyak teori belajaran yang ditawarkan oleh para ahli mulai dari Thorndike hingga Skinner dari behavioristik hingga kontruktivis. Namun pemahaman terhadap teori pembelajaran tersebut tidak didukung oleh penguasaan metode pembelajaran yang komprehensif. Semangat interdisiplineri studi dan pembelajaran berbasis fakta dan kondisi sosial kurang diperhatikan. Dalam proses pembelajaran, pendekatan contextual teaching and learning (CTL) – menurut penulis – salah satu diantara beberapa pendekatan lainnya, yang cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan siswa sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yakni : konstruktivisme, bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessement) (Riyanto, 2005 : 112). Proses pembelajaran harus melibatkan seluruh potensi yang ada pada manusia yaitu potensi somatis, auditori, visual dan intelektual sehingga pembelajaran berlangsung efektif dan efisien ditambah dengan kondisi yang menyenangkan (Meier, 2002 : 91-92). Disamping itu, proses pembelajaran yang berbasis pada siswa harus menyentuh akar AMBAK yaitu Apakah Manfaatnya BAgiKU (Siti Suliha dan Nurul Umamah, tt : 116).

Untuk beberapa tahun terakhir ini, kritik diarahkan kepada lembaga pendidikan atau sekolah atas tumbuhnya ketidakadilan, diskriminasi dan paham otoriter. Hal inilah yang kemudian semakian memperburuk citra pendidikan di Indonesia. Beberapa penyebabnya antara lain : 1. krisis nilai yang melanda peserta didik sehingga mudah sekali untuk tawuran; 2. kualitas pendidikan yng cenderung merosot; 3. angka drop-out yang cukup tinggi; 4. ketidak-jujuran pihak-pihak yang terlibat dalam pendidikan mulai peserta didik, guru, dosen dan personalia pemangku kebijakan yang korup (Sutikno, 2006 : 27). Sejalan dengan keinginan diatas, paradigma pendidikan multikulturalisme, merupakan gejala baru di dalam pergaulan umat manusia yang mendambakan persamaan hak, termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama untuk semua orang (“education for all”). Proses demokratisasi itu dipicu oleh pengakuan terhadap hak asasi manusia yang tidak membedakan perbedaan-perbedaan manusia atas warna kulit, agama dan gender. Maknanya adalah dalam era globalisasi dan standarisasi pendidikan, pemerataan pendidikan harus direalisasikan. Sudah bukan waktunya lagi untuk membuat diskriminasi dalam dunia pendidikan. Perubahan dan perkembangan globalisasi yang begitu cepatnya harus diiringi peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan (continous quality improvement) dan tentu saja harsu didukung dengan Total Quality Management dalam pendidikan.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang mendorong kemajuan industri di berbagai negara menimbulkan ketidakseimbangan sosial. Munculnya pengangguran, kerusakan ekologi dan lingkungan, perbedaan semakin tajam antara golongan kaya dan miskin, perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) yang sangat tinggi, semakin meningkatnya pembunuhan, penyimpangan-penyimpangan sosial dan lain sebagainya tidak hanya mempengaruhi satu negara tetapi dampak dari kesemuannya dirasakan oleh seluruh negara yang ada di dunia sebagai ciri dari globalisasi yaitu kehidupan tanpa batas. Berdasarkan fakta inilah, pendidikan menjadi jalan keluarnya. Bagaimana konsep pendidikan direncanakan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Mendidik siswa bukan hanya aspek kognitifnya saja tetapi mampu memberikan kesadaran kepada peserta didik bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat. Pendidikan harus mampu mengembangkan sumber daya manusia menjadi manusia yang handal, kompeten, profesional selaras dengan tuntutan globalisasi.

Pendeknya, peningkatan mutu pendidikan dengan berbagai aspeknya adalah sebuah keniscayaan dan tentu saja tidak boleh lepas dari atauran-aturan nilai dan budaya masyarakat Indonesia. Sehingga akan mendorong meningkatnya relevansi pendidikan dengan tuntutan globalisasi.Inilah beberapa analisa yang dapat dirangkum oleh penulis sebagai upaya mengkorelasikan antara isi buku dengan konteks globalisasi dan standarisasi pendidikan.

 

Bab IV. Penutup

  1. A. Kesimpulan

Penjelasan, analisa, deskripsi diatas memang jauh dari kata sempurna. ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dalam bingkai globalisasi dan standarisasi pendidikan yaitu :

  1. Interaksi antara pendidikan dan masyarakat harus berjalan bersama-sama. Pertentangan antara pendidikan dan masyarakat harus mampu diatasi sehingga kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan berkualitas dan atau sebaliknya kebutuhan terhadap peran dan dukungan masyarakat kepada pendidikan berbanding lurus.
  2. Proses pembelajaran harus mampu membentuk peserta didik menjadi manusia seutuhnya sebagai makhluk sosial, maka kondisi-kondisi sosial yang ada dalam masyarakat harus mampu diejawantahkan dalam proses pembelajaran.
  3. Proses pembelajaran harus menyentuh pada aspek kebutuhan siswa. Sehingga peserta didik mengetahui dan memahami manfaat belajar yang dilakukannya. Proses pembelajaran harus berjalan secara efektif, efisien dan egaliter. Proses pendidikan harus didasarkan pada persamaan hak dan pemerataan dalam memperoleh pendidikan yang layak bagi semua masyarakat.
  4. Pengembangan kualitas pendidikan harus terus dilakukan dengan usaha perbaikan terhadap konsep-konsep pendidikan yang sudah usang/kuno dengan inovasi konsep baru dalam pendidikan (Countinous quality improvement).
  5. Peningkatan mutu pendidikan harus berbanding lurus dengan relevansi pendidikan dalam era globalisasi.

Daftar Pustaka

Sumber Buku Pokok

Faure, Edgar dkk, Learning To Be : The World of Education Today and Tomorrow, Paris : Unesco.

 

Sumber Buku Penunjang

Meier, Dave, 2002, The Accelerated Learning Hand Book, Bandung : Kaifa.

Mulyasa, E, 2006, Kurikulum Yang Disempurnakan : Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E, 2007, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Riyanto, Yatim, 2005, Paradigma Pembelajaran, Surabaya : Unesa University Press

Sutikno, M. Sobary, 2006, Pendidikan Sekarang dan Masa Depan “Suatu Refleksi Untuk Mewujudkan Pendidikan yang Bermakna, Mataram : NTP Press.

Suliha, Siti dan Nurul Umamah, TT, “Quantum Teaching (Mempraktikkan Quantum Teaching dalam Kelas” dalam “Landasan Pembelajaran” Kumpulan Makalah Program Pascasarjan Univ. Negeri Malang. Naskah tidak diterbitkan.

Sa’ud, Udin Syaefudin dan Abin Syamsudin Makmun, 2008, Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

 

Sumber Internet

________http://msugiono.staff.ugm.ac.id/mkuliah/handoutglobal/Handout%202% 20Memahami%20Globalisasi.doc.

About baharagussetiawan

pemerhati pendidikan
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s