Manajemen Pengembangan KTSP Pendidikan Agama Islam

Daftar Isi

Cover…………………………………………………………………………………………………

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………..

Daftar Isi…………………………………………………………………………………………….

Bab I. Pendahuluan…………………………………………………………………………… 1

  1.  Latar Belakang Masalah………………………………………………………… 1
  2.  Pembatasan Masalah……………………………………………………………… 9
  3.  Rumusan Masalah…………………………………………………………………. 10
  4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian…………………………………………… 10
  5. Tujuan dan Manfaat Pembahasan…………………………………………… 10

Bab II. Tinjauan Pustaka dan Definisi Operasional…………………………… 12

  1. Kajian Pustaka……………………………………………………………………….. 12
  2. Definisi Operasional………………………………………………………………. 13

Bab III. Metode Penelitian dan Analisa data……………………………………… 17

  1. Metode Penelitian………………………………………………………………….. 17
    1. Jenis Penelitian…………………………………………………………………. 17
    2. Rancangan Penelitian……………………………………………………….. 17
    3. Sumber Data…………………………………………………………………………… 18
    4. Analisis Data………………………………………………………………………….. 19

Bab IV. Pembahasan dan Hasil Penelitian

Pengembangan KTSP Mata Pelajaran PAI di SMA.. 20

  1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Islam di SMA ……………….. 20

  1. Pengembangan KTSP Mata Pelajaran PAI di SMA.. 21

Bab V. Kesimpulan…………………………………………………………………………… 25

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………… 27

BAB I. PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Sepanjang sejarah pendidikan di Indonesia telah banyak terjadi dinamika dalam pengembangan kurikulum. Sampai saat ini telah tercatat beberapa kurikulum yang diterapkan di Indonesia, di antaranya adalah; Kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004 dan kurikulum 2006 (http://www.alazhar.syifabudi. net/index.hp?option=content&task=view&id=74 &it e), atau yang sering disebut dengan KTSP yang sampai saat ini masih dijadikan acuan dalam pendidikan di Indonesia.

Bila diteliti secara lebih jeli maka ada beberapa perubahan kurikulum yang memiliki kurun waktu penerapan yang lumayan lama. Namun, ketika mengkritisi kurikulum 2004 atau yang lebih terkenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ini hanya memiliki kurun waktu penerapan yang pendek, yaitu sekitar 2 tahun. Pada tahun 2006 telah muncul format kurikulum yang baru sebagai  pengganti kurikulum berbasis kompetensi yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Kenapa hal itu terjadi (http://www.suraramerdeka.com/harian/0603/20/opi03 /htm), (kenapa KBK harus di ganti dengan KTSP)?

Alasan kuat mengapa KBK segera tergantikan dengan KTSP adalah banyak hal yang ada dalam KBK sulit dilaksanakan oleh pihak sekolah dalam upaya penerapan standar kompetensi dan tujuan pendidikan. Fenomena inilah yang menjadikan sekolah terkesan kurang siap dalam menerapkan KBK walau pada hakikatnya KBK memiliki pengertian yang ideal, yaitu suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik. Hasil itu berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Mulyasa, 2006 : 39). Tetapi bukti riil telah memberikan jawaban bahwa KBK masih belum mampu menjadi solusi bagi dunia pendidikan dalam menghadapi berbagai macam problematikanya.

Aspek krusial yang membedakan antara kurikulum berbasis kompetensi dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah pada aspek karakteristik. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan dalam KBK lebih ditekankan pada kegiatan individual personal untuk menguasai kompetensi yang dipersyaratkan (Mulyasa : 2006 : 42), sedangkan pada KTSP memiliki karakteristik yang khas yaitu memberikan kebebasan pada setiap tingkat satuan pendidikan untuk menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa pada tingkat satuan pendidikan tersebut.

Aspek lain yang juga menjadi faktor pembeda antara KBK dengan KTSP adalah; pada KTSP sekolah diberi kebebasan untuk menyusun kurikulum sendiri, sehingga sekolah harus mampu menyusun silabus dengan berdasarkan standar isi yang untuk kemudian dituangkan ke dalam indikator materi pelajaran. Kalau kurikulum pada KBK sudah sempurna berbentuk mata pelajaran yang rinci, sehingga terjadi penyeragaman materi pada semua materi pelajaran di tiap lembaga pendidikan. Pada KTSP memiliki materi pelajaran yang masih belum sempurna dan baku. Materi yang diberikan kepada sekolah masih berupa standar isi dan standar kompetensi, sehingga sekolah harus memiliki kreatifitas sendiri dalam mengolah standar isi dan standar kompetensi untuk menjadi mata pelajaran yang sempurna. Dari fenomena inilah maka jelas terjadi heterogenitas mata pelajaran pada tiap lembaga pendidikan.

Munculnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menggantikan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dalam kancah dinamika pendidikan Indonesia saat ini dimaksudkan agar KTSP mampu menjadi penyempurna dari kurikulum sebelumnya. Layaknya sebuah kitab suci al-Qur’an  yang memang telah berhasil menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Zabur dan Injil). Mampukah KTSP menjadi kurikulum penyempurna dari kurikulum-kurikulum sebelumnya yang ada di Indonesia? Dan mampukah KTSP menjadi solusi dari problematika pendidikan Indonesia saat ini? Pertanyaan-pertanyaan ini masih belum mampu diterjemahkan oleh realitas karena saat ini KTSP masih dalam taraf implementasi yang problematik.

Bila dianalisa lebih spesifik mengenai dampak KTSP terhadap pengajaran pendidikan agama Islam, maka akan muncul suatu permasalahan-permasalahan yang krusial dalam proses pengajaran pendidikan agama Islam tersebut. Untuk mewujudkan  implementasi yang ideal dari KTSP, maka pihak sekolah yang bersangkutan harus mampu memilih elemen-elemen masyarakat yang tepat dan mau untuk terlibat dalam proses pelaksanaan pendidikan. Dari fenomena ini telah tergambar contoh permasalahan-permasalahan yang nantinya harus dihadapi oleh lembaga pendidikan.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwasannya pendidikan agama Islam merupakan mata pelajaran yang tidak hanya memuat ilmu pengetahuan saja, namun di dalamnya, pendidikan agama Islam syarat akan nilai-nilai dan moral. Dari fenomena di atas tergambar jelas bahwasannya proses pendidikan membutuhkan mata pelajaran pendidikan agama Islam sebagai mata pelajaran yang menyokong perkembangan nilai dan moral siswa. Urgensitas peran pendidikan agama Islam dalam proses pendidikan saat ini telah memosisikan PAI pada pelajaran yang harus mendapatkan perhatian lebih dalam mengembangkan moral siswa.

Sebelum melangkah jauh kepada pengertian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) maka terlebih dahulu dikaji mengenai pengertian kurikulum itu sendiri. Menurut Muzayyin (2005 : 78) secara harfiah kata “kurikulum” berasal dari bahasa Latin dari alihan kata a little racecourse yang berarti suatu jarak yang harus ditempuh dalam pertandingan olah raga yang kemudian dialihkan ke dalam pengertian pendidikan sehingga menjadi circle of instruction yaitu suatu lingkaran pengajaran, di mana guru dan murid terlibat di dalamnya (Home, 1962 : 13).

Hilda Taba (1962 : 13) berpendapat mengenai pendidikan bahwa; fungsi pendidikan di sekolah dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis yaitu :

  1. Sebagai pemelihara dan pentransmisi budaya
  2. Sebagai pentransformasi budaya
  3. Sebagai pengembang pribadi anak didik

Dari uraian pendapat Hilda Taba ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa hendaknya kurikulum pendidikan yang ada di Indonesia saat ini mampu mewadahi fungsi pendidikan tersebut. Dalam hal ini diharapkan kurikulum mampu menjadi mediator transformasi budaya dalam proses pendidikan. Munculnya kurikulum tingkat satuan pendidikan saat ini merupakan hasil metamorfosis dari kurikulum-kurikulum sebelumnya yang diharapkan dengan kehadiran KTSP ini mampu menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada kurikulum sebelumnya.

Niat baik pemerintah dalam upaya mewujudkan tujuan mulia pendidikan saat ini diimplementasikan ke dalam usaha penyempurnaan kurikulum pendidikan yang diharapkan mampu menjadi solusi dari problematika pendidikan yang terjadi di Indonesia. Kebijakan pemerintah yang telah memutuskan untuk mengganti KBK dengan KTSP, menjadi konsekuensi logis bagi subyek pendidikan Indonesia. Karena mau tidak mau mereka harus tetap melaksanakan kebijakan pemerintah tersebut dalam proses pendidikan.

Kebijakan pemerintah dalam dunia pendidikan saat ini harus disikapi secara bijak pula, sehingga tujuan dari kebijakan tersebut bisa tercapai secara maksimal. Melaksanakan KTSP dengan sebaik-baiknya merupakan suatu perwujudan sikap bijak terhadap kebijakan pemerintah. Sebelum melaksanakan kebijakan tersebut maka terlebih dahulu subyek pendidikan memahami esensi dari kebijakkan tersebut. Dengan adanya KTSP saat ini maka sudah menjadi kewajiban bagi subyek pendidikan untuk memahami KTSP. Apa  sebenarnya KTSP itu? Dan bagaimana  sebenarnya KTSP itu?

KTSP merupakan singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat serta karakteristik peserta didik (Mulyasa, 2006 : 8).

Di dalam buku panduan umum penyusunan KTSP yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) juga telah dijelaskan mengenai pengertian KTSP, bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum tingkat satuan pendidikan yang tersusun atas tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur serta muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus (BSNP, 2006 : 10).

Dalam penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan ini lebih memberikan  Full authority and responsibility pada sekolah dalam menetapkan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan visi, misi dan tujuan satuan pendidikan dari tanggung jawab dan otoritas yang dilimpahkan pada pihak sekolah inilah maka sudah menjadi konsekuensi logis bagi para guru untuk lebih profesional dalam mewujudkan proses pengajaran yang efektif agar pengajaran dapat berlangsung secara efektif, maka guru harus menciptakan proses pengajaran dalam suasana pembelajaran dan pengajaran yang baik (Surya, 2004 : 77).

Proses pengajaran yang efektif dapat terbentuk melalui pengajaran yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Berpusat pada Siswa (Student Center)

Keberhasilan proses pembelajaran dan pengajaran terletak dalam perwujudan diri siswa sebagai pribadi mandiri, pelajar efektif dan pekerja produktif. Dari dasar inilah maka sudah sepatutnya seorang guru memberikan perhatiannya kepada siswa sehingga siswa dapat berkembang dengan baik.

  1. Interaksi Edukatif antara Guru dengan Siswa

Rasa saling memahami antara guru dan siswa akan terpupuk subur dengan adanya interaksi edukatif yang harmonis antara guru dengan siswa. Sehingga membangun interaksi edukatif yang harmonis antara guru dengan siswa merupakan kewajiban yang harus dilakukan, yang dalam hal ini tentunya seorang guru dituntut untuk lebih aktif.

  1. Suasana Demokratis

Suasana demokratis dapat diwujudkan  dalam kelas dengan memberikan penghargaan kepada semua pihak sesuai dengan prestasi dan potensinya, sehingga dengan adanya penghargaan ini akan memupuk rasa percaya diri pada siswa dan selanjutnya siswa dapat berinovasi dan berkreasi sesuai dengan kemampuan masing-masing.

  1. Variasi Metode Mengajar

Variasi metode mengajar yang dilakukan oleh guru hendaknya disesuaikan dengan tujuan pencapaian materi pelajaran dan tidak hanya monoton pada satu metode sehingga suasana pengajaran tidak jadi membosankan bagi siswa dalam hal ini guru dituntut untuk lebih kreatif.

  1. Guru Profesional

Menurut Usman (2006 : 15), proses pengajaran yang efektif akan dicapai apabila dilakukan oleh seorang guru yang profesional. Ada beberapa persyaratan seorang guru dikatakan profesional:

  1. Menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang komprehensif.
  2. Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang keguruan.
  3. Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai
  4. Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan atau pengajaran yang dilakukan.
  5. Memungkinkan perkembangan pendidikan sejalan dengan dinamika kehidupan
  6. Memiliki kode etik keguruan
  7. Diakui oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya di masyarakat.
  8. Bahan yang Sesuai dan Bermanfaat

Bahan pelajaran yang diajarkan adalah bersumber dari kurikulum yang telah ditetapkan secara baku. Dalam Suparman (2001 : 8), kurikulum yang telah ditetapkan pun harus dikembangkan untuk mengantisipasi keadaan-keadaan berikut:

  1. Merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
  2. Merespon perubahan sosial kemasyarakatan di luar sistem pendidikan
  3. Memenuhi kebutuhan peserta didik
  4. Merespon kemajuan-kemajuan dalam pendidikan
  5. Merespon terhadap perubahan sistem pendidikan itu sendiri.

Dengan adanya beberapa pertimbangan di atas diharapkan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa benar-benar sesuai dan bermanfaat.

  1. Lingkungan yang Kondusif

Pendidikan di sekolah dan di luar sekolah tidak boleh dilepaskan dari lingkungannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap perkembangan pribadi seseorang merupakan hasil interaksi antara hereditas dan lingkungan (Soemanto, 2006 : 96). Lingkungan memiliki peranan yang penting dalam mendukung suksesnya proses pendidikan.

  1. Sarana Belajar yang Menunjang

Sarana dan prasarana yang menunjang proses pendidikan sangat dibutuhkan untuk mewujudkan proses pengajaran yang efektif. Sarana tersebut adalah berupa alat bantu mengajar, laboratorium, aula, lapangan olahraga, perpustakaan dan sebagainya. Apabila ciri-ciri pengajaran di atas telah berhasil dipenuhi maka dimungkinkan proses pengajaran akan berjalan efektif. Dengan demikian tujuan pendidikan akan lebih mudah dicapai. KTSP disusun dan dikembangkan dengan berdasarkan undang-undang No. 20 Tahun 2003 mengenai sistem pendidikan nasional yaitu terletak pada pasal 36 ayat 1 dan 2 sebagai berikut:

  1. Pengembangan kurikulum mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
  2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.

Secara substansial, pemberlakuan KTSP lebih mengimplementasikan PP No 19 Tahun 2005, akan tetapi esensi isi dan arah pengembangan pembelajarannya tetap masih bercirikan pada tercapainya paket-paket kompetensi yang meliputi:

  1. Menekankan pada tercapainya kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
  3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
  4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif yang mengandung tercapainya tujuan pendidikan.
  5. Penilaian menekankan pada proses dan pada hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi (http://rbaryans.wordpress. com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendi dikan-dasar-dan-menengah/).

Dalam penelitian ini penulis akan  mengupas mengenai sebagian masalah-masalah yang dihadapi oleh lembaga pendidikan SMA dalam upaya pengembangan kurikulum. Sesuai dari hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti, telah didapatkan informasi bahwa di SMA secara dokumentasi telah menyiapkan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan pengembangan KTSP, namun pada tataran pembentukan komite sekolah masih ada beberapa hal yang memang perlu untuk dibenahi, karena rapat komite sekolah masih belum bisa berjalan secara maksimal.

Masih banyaknya siswa yang belum berhasil dalam proses  belajar merupakan masalah yang harus segera dicari solusinya, sehingga ditemukan strategi pembelajaran yang tepat yang perlu dikembangkan  dalam proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran bisa berjalan dengan sempurna dan menghasilkan output yang berkualitas.

Adanya informasi yang diperoleh mengenai  komite sekolah SMA, dari informasi ini jelas tergambar bahwa adanya kesalah pahaman terhadap penerapan KTSP, terbukti dengan adanya pembentukan komite sekolah yang diketuai oleh elemen tokoh masyarakat dan bukan oleh kepala sekolah. Sesuai dengan informasi yang didapat, komite sekolah ini lebih banyak membahas tentang masalah pendanaan, dari fenomena ini nampak jelas bahwa komite sekolah disamakan dengan posisi BP3 yang pada dasarnya komite sekolah ini memiliki cakupan bahasan yang lebih luas, tidak hanya masalah pendanaan sekolah.

Kepala sekolah dan guru merupakan the key person  dalam keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Mereka adalah orang yang diberi tanggung jawab untuk mengembangkan dan melaksanakan kurikulum (Mulyasa, 2006 : 35-36). Dari fenomena inilah, maka kepala sekolah dan guru memiliki peran utama dalam dinamika pendidikan di sekolah termasuk juga harus mengambil peran dalam komite sekolah. Keterbatasan sarana sekolah menjadi faktor yang mempengaruhi dalam melaksanakan pengembangan kurikulum terutama mata pelajaran pendidikan Islam, minimnya sarana yang tersedia di SMA menyebabkan proses pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran pendidikan agama Islam masih belum maksimal.

  1. B.     Pembatasan Masalah

Upaya pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA akan dilihat melalui pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran pendidikan agama Islam yang akan mendukung keberhasilan pengajaran PAI di kelas.

Pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang akan diteliti meliputi; tahap perencanaan. Di dalam tahap perancanaan ini penulis akan meneliti data yang berupa dokumen KTSP mata pelajaran pendidikan agama Islam dan silabus. Setelah data pada tahap perencanaan telah didapatkan  kemudian mencari data pada langkah pelaksanaan KTSP yang meliputi bagaimana kurikulum yang disusun oleh sekolah diimplementasikan dalam pembelajaran. Data pada tahap terakhir yang ingin didapatkan adalah tahap monitoring dan evaluasi kurikulum yang meliputi; data kepemilikan sekolah mengenai program monitoring,  seperti apakah program monitoring yang diterapkan oleh sekolah? kendala-kendala apa saja yang menjadi penghambat dalam monitoring? dan untuk kemudian mencari data tentang bagaimana program evaluasinya?

  1. C.    Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, dalam penulisan tesis ini, penulis memberikan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA?
  2. Bagaimanakah proses pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) di SMA?
  3. Apa problematika yang dihadapi dalam pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran PAI di SMA?
  4. Bagaimanakah solusinya dalam mengatasi problematika tersebut?
  1. D.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
    1. Tujuan Penelitian
      1. Untuk mengetahui proses pengembangan KTSP mata pelajaran PAI di SMA .
      2. Untuk mengetahui dokumen KTSP mata pelajaran PAI di SMA.
      3. Untuk mengetahui problematika yang dihadapi dalam pengembangan  KTSP mata pelajaran PAI di SMA .
      4. Untuk mengetahui solusi dari problematika yang dihadapi dalam pengembangan KTSP mata pelajaran PAI di SMA.
      5. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini bermanfaat:

  1. Bagi penulis, penelitian ini sebagai bekal teoritis dan praktis dalam mengimplementasikan KTSP mata pelajaran PAI di lapangan.
  2. Bagi lembaga pendidikan yang diteliti, dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam mengevaluasi pelaksanaan KTSP mata pelajaran PAI khususnya dan pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran lain pada umumnya.
  3. Bagi para praktisi pendidikan dan dunia pendidikan pada umumnya dapat memberikan pemahaman dan pengembangan ilmu pendidikan, pemecahan masalah dalam pelaksanaan KTSP, serta dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi dunia pendidikan pada umumnya.

Bab II.

Tinjauan Pustaka dan Definisi Operasional

 

 

  1. A.    Kajian Pustaka

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, sampai saat ini tidak ada satupun penelitian baik dalam bentuk buku, skripsi, tesis maupun disertasi yang meneliti tentang pengembangan KTSP mata pelajaran PAI di SMA. Sejumlah penelitian memang telah dilakukan mengenai pengembangan kurikulum PAI di beberapa lembaga pendidikan yang berbeda, di antaranya adalah penelitian yang berjudul “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Airlangga Surabaya oleh saudari Atin Hasanah.Dalam penelitian yang dilakukan oleh saudari Atin Hasanah ini memiliki kecenderungan pada kurikulum terpadu. Kurikulum terpadu ini menggunakan sistem pembelajaran terpadu (Integral Learning) yang tidak hanya menghadirkn berbagai mata pelajaran terkotak-kotak, melainkan materi pelajaran dikaitkan dengan topik yang relevan dengan Core Centre yaitu mata pelajaran inti yang kemudian dikaitkan antar bidang atau intra bidang. Pembelajaran PAI dengan sistem pendekatan terpadu diharapkan akan dapat membina kepribadian dan kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam rangka membudayakan diri pembelajaran dalam lingkungan (Mukminan, 1999).

Dalam penelitian yang lain yang dilakuakan oleh saudari Anin Nurhayati dengan judul “pengembangan Kurikulum Pendidikan  Islam di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang”. Dalam penelitian ini saudari Anin lebih memiliki kecenderungan kepada kurikulum pondok pesantren. Kurikulum pesantren adalah kurikulum yang terlengkap, karena biasa berlangsung selama 24 jam dan tidak seperti kurikulum sekolah yang terbatas pada jam sekolah saja, setelah itu kurikulum tidak berfungsi lagi (Siddiq, 1979 : 21).

Selain dua penelitian di atas, peneliti juga menemukan penelitian yang berjudul”Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam di SDI Al-Hikmah Surabaya oleh saudara Zakariyah. Konsentrasi kurikulum yang dipilih oleh saudara Zakariyah adalah kurikulum pendidikan dasar Islam. Kurikulum pendidikan dasar Islam adalah sama dengan kurikulum pendidikan dasar umum (SD, SLTP) dengan tambahan program bercirikan khas Agama Islam (Depag, 1995 : 2).

Selain dari hasil penelitian, penulis juga mendapati buku yang berjudul “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam” yang dikarang oleh Prof.Dr.H Muhaimin, M.A. Dalam buku tersebut memiliki kecenderungan pengembangan kurikulum yang berbasis kompetensi atau KBK. KBK adalah suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Mulyasa, 2006 : 39).

Dari beberapa kajian pustaka yang telah dilakukan oleh penulis, penulis mencoba untuk memberikan corak penelitian yang berbeda dalam penelitian kurikulum pendidikan agama Islam. Penulis akan meneliti pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mata plajaran Pendidikan Agama Islam di SMA. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP merupakan kurikulum yang akan menjadi warna tersendiri dalam penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, karena dalam penelitian ini penulis akan mencoba menemukan konsep pengembangan kurikulum yang relevan dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran pendidikan agama islam di SMA.

  1. B.     Definisi Operasional

Dalam tesis ini yang akan didefinisikan adalah pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI). Secara etimologis kata pengembangan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003 : 538), berasal dari kata dasar “kembang” yang artinya “maju”, dan jika mendapat awalan –ber menjadi berkembang yang artinya mekar terbuka, membentang atau membesar. Dengan mendapat awalan –pe dan akhiran –an, maka berarti proses atau cara pembuatan mengembangkan atau biasa juga diartikan sebagai proses kegiatan bersama yang dilakukan penghuni suatu daerah untuk memenuhi kebutuhannya. Berbagai pengertian yang sering dikaitkan  oleh masyarakat  mengenai pengertian pengembangan ini adalah pengertian Development (Pembangunan), Progress  (Kemajuan), Growth (Pertumbuhan), Maturation (Pendewasaan), Modernisasi (Pembaharuan) dan lain sebagainya.

Dalam penelitian ini, penulis memiliki kecenderungan untuk memilih definisi pengembangan sebagai suatu kemajuan. Segala upaya yang telah dilakukan dalam upaya pengembangan kurikulum tingat satuan pendidikan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah untuk mendapatkan kemajuan dalam pendidikan.

Menurut Oemar Hamalik (2007 : 137), definisi pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses perencanaan kurikulum merupakan upaya pemenuhan kebutuhan kurikulum sekolah. Upaya pengembangan kurikulum diharapkan mampu menjadi media strategis bagi sekolah  dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan.

Dalam penelitian pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA  ini, penulis mencoba untuk mengamati proses pengembangan kurikulum yang telah dilakukan oleh pihak sekolah yang meliputi:

a.  Menganalisis, dan mengembangkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan Standar Isi (SI).

b.  Merumuskan visi dan misi serta tujuan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.

c.  Berdasarkan SKL, standar isi, Visi, dan misi, serta tujuan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan di atas selanjutnya dikembangkan bidang studi-bidang studi yang  akan diberikan untuk merealisasikan tujuan tersebut.

d.  Mengembangkan dan mengidentifikasi tenaga-tenaga kependidikan (guru dan non guru) sesuai dengan kualifikasi yang diperlukan dengan berpedoman pada standar tenaga kependidikan yang ditetapkan BSNP.

e.  Mengidentifikasi fasilitas pembelajaran yang diperlukan untuk memberi kemudahan belajar, sesuai dengan standar sarana dan prasarana pendidikan yang ditetapkan BSNP (Mulyasa, 2006 : 149).

Penelitian pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA ini akan mencoba mengidentifikasi pengembangan kurikulum yang meliputi, pengembangan silabus, pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran dan pengembangan evaluasi belajar. Ada 5 langkah pengembangan kurikulum dalam model Taba yang di antaranya adalah sebagai berikut:

a.  Mengadakan unit eksperimen bersama guru-guru. Di dalam unit eksperimen ini diadakan kajian yang seksama tentang hubungan antara teori dan praktek. Ada 8 langkah dalam kegiatan unit eksperimen:

1. Mendiagnosis kebutuhan,

2. Merumuskan tujuan-tujuan khusus,

3 Memilih isi,

4. Mengorganisasi isi,

5. Memilih pengalaman belajar,

6. Mengorganisasi pengalaman belajar,

7. Mengevaluasi,

8. Melihat sekuens dan keseimbangan (Taba, 1962 : 347-379).

b.  Menguji Unit eksperimen

c.   Mengadakan revisi dan konsolidasi

d.  Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum

e.   Implementasi dan desiminasi yaitu menerapkan kurikulum baru ini pada daerah-daerah atau sekolah yang lebih luas (Sukmadinata, 2007 : 166-167).

Menilik pada pengertian teori kurikulum. Nana Saodih menjelaskan bahwa teori kurikulum merupakan suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna tersebut terjadi karena ada penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum (Taba, 1962 : 27). Sesuai dengan teori kurikulum, ada dua jenis kurikulum yaitu Formal Curriculum dan Hidden curriculum. Pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan ini memiliki spesifikasi pada kurikulum formal yang ada di sekolah. Sebagaimana telah diterangkan di atas  bahwa selain kurikulum formal juga ada kurikulum tersembunyi atau Hidden Curriculum. Kurikulum formal  adalah kurikulum yang mencakup semua materi pelajaran yang diberikan di sekolah termasuk di dalamnya adalah muatan lokal yang notabene memiliki ciri khas daerah masing-masing di mana proses pendidikan itu dilaksanakan. Hidden Curriculum adalah kurikulum yang dapat menunjukkan pada suatu hubungan sekolah, yang meliputi interaksi guru, peserta didik, struktur kelas, keseluruhan pola organisasional peserta didik sebagai mikrokosmos sistem nilai sosial (Bellack dan Kliebard, 1993 : 26). Hidden Curriculum merupakan kurikulum yang tidak direncanakan, tetapi keberadaan Hidden Curriculum juga memiliki kontribusi yang signifikan dalam proses pendidikan.

 

Bab III.

Metode Penelitian dan Analsis Data

 

 

  1. A.    Metode Penelitian
    1. Jenis dan Rancangan
      1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif, yaitu suatu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa data-data tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati (Moleong, 2002 : 3). Adapun bentuk penelitian adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang menggambarkan suatu obyek yang berkenaan dengan masalah penelitian kasus, karena penulis bertujuan ingin mempelajari secara intensif tentang latar belakang seseorang, kelompok atau lembaga, terinci dan mendalam terhadap organisasi lembaga atau gejala tertentu (Faisal, 1992 : 18).

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan penelitian kasus, karena penulis bertujuan ingin mempelajari secara intensif tentang latar belakang seseorang, kelompok atau lembaga, terinci dan mendalam terhadap organisasi lembaga atau gejala tertentu (Arikuto, 1997 : 13).

  1. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian ini dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:

1)      Menentukan masalah penelitian, dalam tahap ini peneliti mengadakan studi pendahuluan pada lembaga pendidikan yang akan diteliti.

2)      Mengumpulkan data. Pada tahap ini peneliti mulai dengan menentukan sumber data, yaitu buku-buku yang koheren dengan permasalahan dari segenap individu yang berkompeten di SMA.

Pada tahap ini diakhiri dengan pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi.

3)      Analisis dan penyajian data, yaitu menganalisa data yang masuk dan akhirnya ditarik suatu kesimpulan.

  1. B.     Sumber Data

Sumber data literatur adalah data yang diperoleh peneliti dari buku karangan para ahli yang sesuai dengan masalah yang diteliti. Termasuk dalam hal ini karya ilmiah, makalah. Dan termasuk dalam hal ini adalah dokumen-dokumen tentang keadaan pendidikan dan catatan lain yang mendukung. Data tertulis dan visual meruapakan data pokok dari penelitian ini. Disamping itu data peneltian juga diperoleh dengan beberapa metode seperti :

  1. Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan atau pencatatan dengan sistematik, fenomena-fenomena yang diselidiki (Best, 1982 : 204). Metode ini diterapkan dalam upaya untuk mengamati fenomena-fenomena yang ada dalam kelas selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar mata pelajaran pendidikan agama Islam di SMA. Dalam hal ini include di dalamnya mengenai materi pelajaran, metode, serta keadaan peserta didik.

  1. Interview/Wawancara

Interview adalah suatu dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi/data dari yang diwawancarai (Best, 1982 : 213). Metode ini diterapkan dalam upaya untuk memperoleh data atau informasi tentang pelaksanaan pengembangan KTSP mata pelajaran pendidikan agama Islam di SMA. Interview ini menggunakan wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci dengan beberapa pertanyaan terbuka.

  1. Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal yang berupa benda-benda tertulis, buku-buku, majalah, dokumentasi, peraturan, catatan harian, arsip-arsip dan seterusnya (Arikunto, 1997 : 236). Metode ini diterapkan untuk mencari data tentang berbagai teori kurikulum pendidikan agama Islam dan implementasinya serta untuk mencari data mengenai hal-hal yang berkenaan dengan lokasi yang diteliti yaitu letak geografis, keadaan guru, struktur organisasi sekolah dan seterusnya.

 

  1. C.  Analisis Data

Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, maka penulis tidak menggunakan analisis statistik dan menggunakan metode induktif dalam melakukan analisa data yang masuk. Metode induktif yaitu metode penelitian yang tidak dimulai dari deduksi suatu teori, tetapi dimulai dari lapangan, yakni fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan untuk mempelajari suatu proses atau penemuan yang terjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan, melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut (Sujana, 1989 : 199).

Bab IV. Pembahasan dan Hasil Penelitian

 

Analisis Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA

 

  1. A.      Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA.

 

Secara umum kurikulum didefinisikan sebagai suatu “rencana/plan” yang dikembangkan untuk memperlancar proses belajar-mengajar dengan arahan atau bimbingan sekolah serta anggota stafnya (Subandiyah, 1993 : 33). Dari pengertian ini kurikulum dapat diartikan sebagai suatu media yang digunakan untuk memperlancar proses belajar-mengajar. Sesuai data yang diperoleh oleh penulis, kurikulum tingkat satuan pendidikan  (KTSP) baru bisa diterapkan pada kelas satu saja dan untuk kelas dua dan kelas tiga masih mengacu pada KBK.

KTSP merupakan bentuk penyempurnaan  kurikulum dari kurikulum 2004 (KBK) ke kurikulum 2006 (KTSP). Pada intinya KTSP juga berbasis kepada kompetensi, namun ada beberapa hal yang membedakan antara KBK dan KTSP sebagaimana yang telah diterangkan di atas. Perbedaan yang ada pada KTSP merupakan wujud dari upaya penyempurnaan kurikulum. Dengan adanya penyempurnaan kurikulum ini diharapkan sekolah yang telah siap menerapkan KTSP mampu meningkatkan kualitas pendidikannya.

KTSP akan menjadi sarana peningkatan mutu pendidikan bagi sekolah yang telah siap mengimplementasikannya, lalu bagaimana dengan sekolah yang belum siap? Merupakan sebuah realitas bahwa tidak semua sekolah yang ada mampu mengimplementasikan KTSP secara baik dan benar. SMA masih mampu menerapkan KTSP pada kelas satu saja, tepatnya pada tahun ajaran 2007-2008. Fakta ini membuktikan  SMA masih menerapkan KTSP selama kurang lebih satu tahun. Pada masa satu tahun inilah SMA mengujicobakan kesiapannya dalam mengimplementasikan KTSP,  walaupun telah kita ketahui bersama bahwa KTSP ini muncul sejak 2006.

Lebih spesifik penulis akan memaparkan kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran pendidikan agama Islam. Bila membahas tentang kurikulum pendidikan agama Islam maka tidak akan terlepas dari kurikulum secara umum yang diterapkan oleh sekolah, yang nantinya akan membicarakan tentang dokumen I dan dokumen II KTSP yang digunakan sebagai kerangka belajar.

  1. B.  Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA.

Pengembangan kurikulum di tiap satuan pendidikan merupakan hal yang urgen. Dengan adanya pengembangan kurikulum, kualitas pendidikan di tiap satuan pendidikan akan lebih baik, karena pengembangan kurikulum ini memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Dalam upaya pengembangan kurikulum ini, lembaga pendidikan SMA telah membentuk tim pengembang kurikulum yang berada di bawah tanggung jawab kepala sekolah. Mengenai upaya pengembangan kurikulum di SMA ini, menurut sumber berpendapat bahwa; ”Berbicara masalah pengembangan KTSP PAI maka erat kaitannya dengan mutu pendidikan materi PAI, karena segala upaya pengembangan kurikulum yang dilakukan pada suatu lembaga pendidikan adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di lembaga tersebut.”  Keterlibatan puncuk pimpinan selaku kepala sekolah dalam upaya pengembangan kurikulum merupakan suatu wujud rasa tanggung jawab atas keberhasilan pelaksanaan pendidikan yang terjadi di lembaga pendidikan yang ia pimpin. Sehingga menjaadi sebuah keniscayaan kepala sekolah selalu mengadakan kontrol terhadap perkembangan sekolah melalui tim pengembang kurikulum, karena dalam tim pengembang kurikulum ini sudah mencakup pengembangan segala aspek yang menunjang pada peningkatan mutu pendidikan. Aspek-aspek tersebut meliputi aspek mata pelajaran, sarana dan prasarana yang masing-masing sudah ada perpanjangan tangannya, yaitu wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana.”

Secara struktural tim pengembang kurikulum telah terbentuk, namun struktur  organisasi yang ada dalam tim pengembang kurikulum ini masih belum mampu memberikan job deskription yang jelas, karena struktur organisasi dari tim pengembang kurikulum hanya memuat komposisi kepengurusan penanggung jawab, ketua, sekretaris dan dua anggota. Dari fenomena inilah, penulis berpendapat bahwa; seharusnya komposisi kepengurusan yang ada dalam struktur organisasi tim pengembang kurikulum mampu memberikan gambaran umum mengenai tugas yang harus diselesaikan oleh tiap pengurus.

Mengenai struktur organisasi tim pengembang kurikulum ini, penulis berpendapat bahwa; seharusnya komposisi struktur oarganisasi tim pengembang kurikulum terdiri dari: 1.) penanggung jawab, 2.) ketua umum, 3.) sekretaris, 4.) bendahara, 5.) ketua bidang kurikulum, 6.) ketua bidang sarana dan prasarana. Masing-masing ketua bidang ini harus diisi oleh orang yang benar-benar kompeten di bidangnya yaitu wakil kepala sekolah bidang kurikulum sebagai ketua bidang kurikulum dan wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana  sebagai ketua bidang sarana dan prasarana. Komposisi seperti pendapat penulis ini akan lebih memudahkan tim  pengembang kurikulum dalam menjalankan tugasnya.

Sesuai dari hasil penelitian, penulis belum menemukan program kerja secara tertulis yang dimiliki oleh tim pengembang kurikulum. Dari fenomena inilah, penulis berpendapat bahwa perlu adanya perumusan program kerja secara tertulis dari tim pengembang kurikulum sehingga ada gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Menurut sumebr selaku ketua dari tim pengembang kurikulum telah memberikan gambaran tentang hal-hal yang telah berhasil dilakukan olah pihak sekolah dalam upaya pengembangan kurikulum, beliau mengatakan bahwa; “ Sekolah selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui pengembangan kurikulum. Tim pengembang kurikulum ini memiliki tugas untuk menyusun KTSP, mengembangkan KTSP, merintis kelas berstandar imternasional dan pengembangan yang lain yang menunjang peningkatan mutu pendidikan di sekolah.  Dalam upaya pengembangan kurikulum, pihak sekolah juga menjalin kerjasama dengan lembaga terkait sebagai faktor penunjang dalam upaya pengembangan kurikulum. Seperti halnya saat ini pihak sekolah sedang menjalin kerjasama dengan lembaga bantuan belajar dalam rangka memacu keterampilan siswa dalam berbahasa Inggris dan juga bekerjasama dengan e-learning  untuk mempermudah siswa dalam menguasai dunia informasi melalui internet.”

Selain bekerjasama dengan lembaga terkait, SMA juga bekerjasama dengan universitas-universitas baik negeri maupun swasta dalam rangka penerimaan mahasiswa baru. Jalin kerjasama dengan masyarakat juga dilakukan oleh SMA. Hal ini terbukti dengan adanya muatan lokal yang lebih menitik beratkan pada potensi daerah yaitu hasil kelautan. Dengan adanya materi muatan lokal yang memuat tentang hasil kelautan, maka pihak sekolah harus profesinal dalam hal ini. Dalam penyusunan kurikulum muatan lokal, pihak sekolah harus mendatangkan orang yang benar-benar kompeten di bidang hasil kelautan, oleh karena itulah pihak sekolah juga berusaha menjalin kerjasama dengan masyarakat yang notabene memiliki pencaharian di laut.

Mengenai jalin kerjasama yang telah dilakukan oleh pihak sekolah ini, belum ada satu kerjasama pun dengan pihak luar sekolah yang telah dijalin oleh sekolah dalam rangka pengembangan kurikulum PAI. Mengenai hubungan dengan masjid terdekat dengan sekolah pun itu hanya sebatas hubungan personal, namun secara kelembagaan sekolah masih belum menampakkan jalin kerjasamanya dengan pihak lain dalam rangka pengembangan kurikulum PAI.

Pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Jember telah diupayakan sedemikian rupa sebagai upaya peningkatan iman dan taqwa siswa. Upaya pengembangan  yang dilakukan ini meliputi upaya pengembangan pada tahap perencanaan, pengembangan pada tahap implementasi dan upaya pengembangan pada tahap evaluasi. Berikut ini penulis akan memaparkan upaya-upaya pengembangan yang telah dilakukan pada tiap tahapan.

Bab V. Kesimpulan

 

Sesuai dari hasil penelitian, penulis dapat menyimpulkan bahwa pengembangan KTSP PAI di SMA Negeri 1 Jember melibatkan pihak administrator dan guru dalam membuat rambu-rambu kurikulum dan pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum di SMA Negeri 1 Jember masih belum maksimal. Segala keterbatasan sekolah dan problematika yang dihadapi menjadi pemicu kurang maksimalnya upaya pengembangan kurikulum.

Pengembangan kurikulum di SMA pada tahap implementasi sudah dilakukan, tetapi perlu ada perhatian terhadap ketuntasan belajar, karena perencanaan pembelajaran masih belum tuntas dan terbatasnya porsi jam mengajar, sehingga pelaksanaan belajar mengajar kurang maksimal. Pengembangan kurikulum di SMA pada tahap evaluasi masih perlu ada pembenahan. Monitoring belum terlaksananya dengan baik.  Penilaian hasil belajar siswa masih cenderung pada penilaian hasil tes, sehingga penilaiannnya masih belum maksimal.

Secara  dokumentatif, SMA telah menyiapkan dokumen KTSP, namun dokumen itu masih belum sempurna dan belum  terlaksana dengan maksimal. Hal ini terbukti dengan adanya dokumen KTSP PAI yang belum terimplementasi secara maksimal. Secara dokumentatif SMA telah menyiapkan KTSP PAI, namun dokumen ini masih belum terimplementasi secara maksimal, karena ternyata keberadaan dokumen RPP masih belum terimplementasi. Berbagai problematika pengembangan kurikulum yang dihadapi oleh SMA dalam upaya pengembangan kurikulum menjadi faktor pemicu kurang maksimalnya pengembangan kurikulum di SMA. Problematika yang harus dihadapi adalah problematika perencanaan kurikulum, problematika implementasi kurikulum dan problematika evaluasi kurikulum. Solusi problematika pengembangan kurikulum pada tahap perencanaan kurikulum adalah dengan menyiapkan perencanaan kurikulum secara matang. Melaksanakan koordinasi tim pengembang kurikulum dengan melibatkan pihak eksternal sekolah yang mampu memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kurikulum.

Solusi problematika pengembangan kurikulum pada tahap implementasi kurikulum, ada beberapa solusi yang perlu dilakukan yaitu : Pertama: Merencanakan pelaksanan pembelajaran dengan matang sehingga pelaksanaan pembelajaran terencana secara baik dan sistematis. Mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam silabus yang untuk kemudian menyusun dan mengembangkan RPP. Kedua: Melengkapi sarana dan prasarana yang menunjang pengembangan KTSP PAI. Menambah jam pelajaran PAI atau merubah orientasi mengajar PAI yang tidak hanya cenderung kepada penyampaian materi saja, tapi juga pada aspek pemberian pengalaman belajar, atau memberikan materi tambahan yang menunjang pengajaran PAI di luar jam kurikuler. Ketiga: Memperbaiki sistem monitoring pembelajaran dan merumuskan sistem penilaian yang mampu mengeksplor kemampuan siswa baik itu dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Solusi problematika pengembangan kurikulum pada tahap evaluasi kurikulum adalah dengan memperbaiki sistem monitoring kurikulum. Bekerja sama dengan pihak yang mampu memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kurikulum dalam melakukan revisi kurikulum.

 

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi,1997,  Prosedur Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta.

Arifin, Muzayyin, 2005,  Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara.

Bellack dan Kliebard, dalam Subandija,   1993, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Jakarata : Raja Grafindo.

BSNP, 2006, Panduan Umum Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Surabaya: Departemen Agama Jatim.

Best, John W, 1982,  Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional.

Departemen Pendidikan Nasional, Standar Nasional Pendidikan (Jakarta: PP No. 19 Tahun 2005.

Bambang A Soekisno, Bagaimanakah Perjalanan Kurikulum Nasional pada Pendidikan Dasar dan Menengah,  dalam http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/.

Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke Tiga, Jakarta : Balai Pustaka.

Faisal, Sanapiah ,1992,  Format-Format Penelitian Sosial, Jakarta : Rajawali Press.

Hamalik, Oemar, 2007,  Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung : Remaja Rosdakarya

Home, Herman  H, 1962,  An Idealistic Philosophy of Education, Chapter V , Chicago : The University of Chicago Press.

Habsy Khotib,  Apa Itu Kurikulum KTSP dalam http://www.alazhar.syifabudi. net/index.php ?option=content&task=view&id=74&ite.

Mulyasa, E, 2006, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Mukminan, Pembelajaran Terpadu (Strategi Alternatif dalam Pembelajaran Pendidikan Islam), Makalah disampaikan dalam workshop peningkatan kualitas program pengalaman lapangan bagi para dosen fakultas tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Moleong, 2002, Metodologi  Penelitian  Kualitatif , Bandung : Remaja Rosdakarya

Surya, Muhammad , 2004, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung : Pustaka Bani Quraisy.

Usman, Moh. Uzer, 2006, Menjadi Guru Profesional, Bandung : Remaja Rosdakarya.

Suparaman, M. Atwi dkk., 2001, Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum, Jakarta : Pusat Antar Universitas.

Soemanto, Wasty, 2006,  Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta

Siddiq, Ahmad, 1979,  Khittah Nahdliyah Surabaya : Balai Buku.

Supriyoko, Problem Baru Pendidikan, dalam http://www.suraramerdeka .com/harian /0603/20/opi03/htm.

Sujana, Nana 1989,  Penelitian dan Penelitian Pendidikan,  Bandung : Sinar Baru.

Subandijah,  1993, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Taba, Hilda, 1962, Curriculum  Development, Theory and  Practice, New York : Harcourt Brace & World inc.

About baharagussetiawan

pemerhati pendidikan
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s